DI tengah gempuran berbagai gadget, game console atau game modern lainnya, permainan tradisional seperti congklak masih bertahan. Setidaknya permainan ini kadang masih jadi primadona di antara anak-anak di pedesaan.
Permainan yang membutuhkan ketelitian dalam menghitung biji-biji permainannya ini, mirisnya sudah mulai ditinggalkan anak-anak zaman sekarang. Padahal dulu, AJ Resink-Wilkens menyatakan dalam tulisannya, ‘Het Dakonspel’, permainan ini hanya dimainkan anak-anak bangsawan.
Disebutkan pula bahwa permainan ini penuh nilai-nilai luhur, lho. Apalagi mainan ini bukan soal menang dan kalah alias nonkompetitif. Tapi lebih kepada hiburan dan ketenangan hati saja, meski permainannya mengesankan penonjolan ego.
“Peraturannya memang dibuat demikian (nonkompetitif) sehingga dapat berlangsung berjam-jam dan hanya sekali waktu terhenti karena kalah atau habis bijinya di lubang tertentu,” ungkap penulis Dennys Lombard.
Bicara asal usulnya, ternyata permainan ini katanya sudah ada di nusantara sejak masa prasejarah (megalithikum)! Bukti itu terlihat pasca-adanya ekskavasi di Panjunan, Banten 1983 silam.