PARIS – Pemilihan Presiden (Pilpres) Prancis putaran kedua akan berlangsung sebentar lagi. Kandidat sayap kanan Marine Le Pen dan calon independen Emmanuel Macron akan saling berhadapan memperebutkan posisi pemimpin Prancis pada 7 Mei 2017.
Macron dan Le Pen meraih suara terbanyak dalam Pilpres putaran pertama yang berlangsung pada 23 April. Keduanya mengungguli kandidat lainnya termasuk mantan Perdana Menteri Francois Fillon dan tokoh ekstrem kiri Jean-Luc Melenchon.
Menjelang bergulirnya putaran kedua, kandidat Front Nasional mendapat isu tak sedap dengan beredarnya tudingan bahwa dia telah menjiplak pidato lawan politiknya. Pidato yang disampaikan Le Pen pada peringatan Hari Buruh Internasional pekan ini dinilai memiliki kemiripan dengan pidato Francois Fillon bulan lalu sebelum dia terdepak dari Pilpres putaran pertama.
Meski mengakui ada kemiripan, Manajer kampanye Le Pen, David Rachline, mengecilkan tuduhan plagiarisme tersebut. Ia menyebut, pidato Le Pen adalah sebuah penghormatan untuk Fillon.
Kedua kandidat akan kembali berhadapan dalam debat Capres Prancis yang disiarkan di sejumlah televisi nasional hanya beberapa hari sebelum pencoblosan ronde kedua. Dalam debat tersebut, Macron dan Le Pen akan menyampaikan visi mereka terkait masa depan Prancis dan cara penanggulangan terorisme.
Bagi Le Pen, debat ini menjadi kesempatan besar terakhir untuk membujuk para pemilih mendukung program-programnya yang termasuk penanggulangan imigran ilegal dan mengganti euro sebagai mata uang negara.
Jajak pendapat menunjukkan Macron masih mempertahankan keunggulan dengan lebih dari 20 persen poin dibandingkan Le Pen. Mantan menteri berusia 39 tahun itu juga akan mendapatkan dukungan dari para simpatisan yang semula mendukung capres Jean-Luc Melenchon dan Presiden Prancis Francois Hollande.
Jika berhasil menang dalam Pilpres ini, maka Macron akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Prancis di usianya yang baru menginjak 39 tahun. Sebelumnya gelar itu dipegang oleh jenderal legendaris Prancis, Napoleon Bonaparte yang memimpin negeri itu pada usia 40 tahun.
Dibandingkan Pilpres-pilpres sebelumnya, perhelatan kali ini lebih banyak mendapat sorotan dunia karena tidak hanya akan menentukan masa depan politik Prancis tetapi juga Eropa dan dunia. Berbagai isu penting seperti Frexit, pengungsi, dan isu keamanan menjadi agenda yang dikedepankan kedua kandidat akan memperlihatkan seperti apa kebijakan Prancis lima tahun mendatang.
(Rahman Asmardika)