Hal ini jelas membantah mitos bahwa Borneo aman 100 persen dari bencana gempa. Apalagi gempa yang sama di tahun itu juga terjadi pertama kali di bulan Januari dengan berkekuatan 5,6 SR.
Ternyata menurut pernyataan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kalimantan Timur dan Utara tetap berada dalam zonasi gempa dari megathrust Sulawesi Utara atau Sesar Palu Koro.
Makanya di Borneo tetap akan terasa gempa jika memang ada gesekan atau tubrukan antarlempeng. Pasalnya yang terjadi di 2015 itu bukan kali pertama.
BMKG juga mencatat pada November 2017, Tarakan yang dulu masih berada di wilayah Provinsi Kalimantan Timur, diguncang gempa 5,5 SR. Begitupun di Kalimantan Selatan, tepatnya Pulau Laut, Sebuku dan Batulicin pada Februari 2008 dengan guncangan 5,8 SR.
(Randy Wirayudha)