WASHINGTON – Militer China dilaporkan telah bersiap untuk menghadapi konflik dan memperkuat pertahanan di sepanjang perbatasan dengan Korea Utara (Korut). Langkah itu diambil beberapa saat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan bahwa dirinya mempertimbangkan tindakan militer terhadap Pyongyang.
Laporan Wall Street Journal (WSJ) yang mengutip kajian dari laman resmi pemerintah dan militer serta wawancara dengan pakar menyebutkan bahwa China telah membangun sebuah bungker yang mampu bertahan dari ledakan nuklir, membentuk brigade penjaga perbatasan baru dan sistem pengawasan 24 jam di wilayah tersebut. Persiapan itu dimaksudkan untuk merespons skenario terburuk termasuk konflik, kehancuran ekonomi dan bahaya kontaminasi nuklir.
Pemerintah China belum memberikan respons terkait laporan WSJ tersebut. Seorang pejabat kementerian pertahanan mengatakan militer Negeri Tirai Bambu terus mempertahankan kesiagaan dan latihan dengan normal.
Pakar dari think tank Rand Corp, Mark Cozad mengatakan kepada WSJ bahwa China telah melakukan persiapan lebih dari sekadar membuat buffer zone di sepanjang perbatasan.
"Jika Anda akan menyuruh saya bertaruh di mana, saya pikir AS dan China pertama kali akan berkonflik, maka jawabannya bukan Taiwan, Laut China Selatan atau Laut China Timur; Saya pikir konflik pertama kedua negara adalah di Semenanjung Korea," kata Cozad sebagaimana dikutip dari Fox News, Selasa (25/7/2017).
Pemerintah AS telah mencari cara untuk menekan Korut dan menghentikan program nuklir dan rudal balistiknya. Kesuksesan uji coba rudal balistik yang dilakukan Korut baru-baru ini semakin menambah urgensi bagi Washington untuk menghentikan Pyongyang.
Namun, strategi awal yang dilakukan AS dengan meminta bantuan China terbukti tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan. Hal ini membuat Washington mempertimbangkan langkah ekonomi lainnya termasuk menjatuhkan sanksi yang menyasar perusahaan, yang sebagian besar berada di China, yang melakukan bisnis yang legal dengan Korut.
(Rahman Asmardika)