BEIJING – Sanksi baru yang dijatuhkan PBB terhadap Korea Utara (Korut) pekan ini diperkirakan akan mencekik perekonomian negara terisolasi tersebut. Bagaimana tidak, dengan sanksi tersebut, PBB telah melarang semua ekspor batubara, besi, bijih besi, timah hitam, dan makanan laut dari Korut yang nilainya diperkirakan setara dengan USD1 miliar.
BACA JUGA: Gila! Dijatuhi Sanksi oleh PBB, Korea Utara Ancam Akan Hancurkan AS
BACA JUGA: PBB Jatuhkan Sanksi Baru Atas Korut, AS Peringatkan: Kami Tidak Main-Main
Selain Korut, dari semua negara di dunia, sepertinya China-lah yang akan merasakan dampak terbesar dari sanksi baru tersebut karena hubungan ekonominya yang dekat dengan Pyongyang. Namun, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi mengatakan, negaranya siap menanggung dampak dari sanksi tersebut dan kembali menegaskan komitmen Beijing dalam menentang uji coba rudal yang terus menerus dilakukan Korut.
"Karena hubungan ekonomi tradisional China dengan Korut, China akan menanggung dampak untuk menerapkan resolusi tersebut. Namun, untuk melindungi sistem non-proliferasi internasional dan perdamaian dan stabilitas regional, China, seperti sebelumnya akan sepenuhnya dan dengan tegas menerapkan keseluruhan isi resolusi yang relevan," demikian disampaikan Wang Yi sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (8/8/2017).
Wang mengatakan, terlepas dari sanksi baru tersebut, resolusi tersebut juga menjelaskan bahwa proses Perundingan Enam Pihak harus dimulai kembali. Mekanisme dialog terkait uji coba nuklir Korut yang macet sejak 2009 itu juga melibatkan Rusia, Amerika Serikat (AS), Korea Selatan (Korsel) dan Jepang.
Dia juga memuji pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson yang menyatakan bahwa Washington tidak berniat untuk menumbangkan rezim Kim Jong-un di Korut dan menginginkan dialog dengan Pyongyang. Wang berharap Korut dapat menyambut sinyal baik dari AS itu dengan reaksi yang serupa.
(Rahman Asmardika)