JAKARTA - Di dunia global dewasa ini, paham komunisme dianggap sudah kehilangan panggung. Oleh sebab itu aneh jika Partai Komunis Indonesia (PKI) dianggap masih hidup dan gentayangan di Indonesia.
Hal itu dikatakan Rais Syuriah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Australia, Nadirsyah Hosen. Menurutnya, Era perang dingin antara Komunis Uni Soviet dengan Kapitalis Amerika telah berakhir. "Tembok Berlin sudah runtuh. Uni Soviet sudah bubar," kata Nadirsyah di akun Twitternya @na_dirs.
Saat ini, lanjut Nadirsyah, kekuatan komunis direpresentasikan oleh Cina. Itu pun tidak se-ekstrem Korea Utara. Cina lebih pada ekspansi ekonomi, bukan militer.
"Isu PKI mengarah kepada PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) yang merupakan anak kandung PNI (Partai Nasionalis Indonesia) Soekarno. Menangnya PDIP sama dengan bangkitnya PKI. Absurd, tapi ini yang di-hoax-kan," terangnya.
Menurutnya, saat ini kesederhanaan Presiden Joko Widodo adalah modal besar pemerintah untuk membentung isu yang tengah menggerogoti pemerintah.
"Kekuatan Jokowi adalah karakternya yg sederhana dan ndeso. Gaya komunikasi ini cocok di hati rakyat dan juga para ulama. Tulus!" terangnya.
Karena saat ini, lanjut Nadirsyah, pemerintahan Jokowi terus dibenturkan dengan serangkaian isu.
"Pemerintah Jokowi diserang dengan tiga isu sekaligus: Anti Islam, anti demokrasi dan pendukung PKI. Ketiganya secara sistematis terus dimainkan," pungkasnya.(fin)
(Amril Amarullah (Okezone))