MANILA – Ribuan aktivis sayap kiri dan lawan politik Presiden Filipina, Rodrigo Duterte berkumpul dan menggelar unjuk rasa menentang apa yang mereka lihat sebagai kebangkitan kediktatoran pada pemerintahan mantan Wali Kota Davao itu. Politisi, masyarakat adat, pemimpin gereja, dan kaum kiri berkumpul dalam demonstrasi dan misa untuk mengkritik Duterte dan menuduhnya menjalankan otoritarianisme yang mirip dengan mantan diktator Filipina, Ferdinand Marcos.
BACA JUGA: Waduh... Hadapi Demonstrasi Besar-besaran, Duterte Ancam Umumkan Darurat Militer
Demonstrasi tersebut digelar bertepatan dengan peringatan 45 tahun deklarasi status darurat militer di masa pemerintahan Marcos, yang berlangsung selama sembilan tahun sampai dia dilengserkan. Masa itu dikenang oleh banyak rakyat Filipina sebagai saat-saat kelam dengan pemerintahan yang brutal dan opresif.
Di antara para peserta demonstrasi terdapat Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo yang menghadiri misa di Universitas Filipina yang menjadi tempat munculnya para aktivis politik Negeri Lumbung Padi. Robredo mengingatkan rakyat Filipina untuk tidak lengah dan dapat mengenali tanda-tanda kebangkitan sebuah tirani.
“Jika kita tidak mengingat masa lalu, kita bisa dikutuk untuk mengulanginya. Sayangnya, mereka yang tertipu tidak menyadari bahwa mereka berjalan di jalan kehancuran,” kata Robredo sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (21/9/2017).
Marcos memerintah Filipina dari 1965 sampai 1986 dan dikenal sebagai diktator yang memberlakukan hukum militer di negara itu. Marcos mengumumkan status darurat militer di Filipina pada 1972, mengawali sebuah pemerintahan teror yang dituduh menculik, membunuh, menyiksa dan ‘melenyapkan’ lawan-lwan politiknya.
Rezim Marcos berakhir setelah dia digulingkan di tengah pergolakan politik Filipina pada 1986. Setelah dilengserkan, Marcos melarikan diri ke Hawaii di mana dia hidup dalam pengasingan sampai meninggal dunia pada 1989.
BACA JUGA: Remaja Ditemukan Tewas dengan 30 Tusukan, Perang Narkoba Duterte Kembali Makan Korban
Duterte yang meliburkan sekolah dan pegawai pemerintah pada Kamis, 21 September untuk memberi kesempatan warga berdemonstrasi, diketahui pernah beberapa kali mengungkapkan kekagumannya pada sosok Marcos. Dia juga mengizinkan jenazah Marcos yang dibenci sebagian besar rakyat Filipina, untuk dimakamkan di Libingan ng mga Bayani atau taman makam pahlawan Filipina.
Selain itu, perang melawan narkotika Duterte yang telah menewaskan ribuan warga Filipina serta kebijakannya untuk menetapkan status darurat militer di selatan Filipina tahun ini juga menjadi sasaran kritik dari lawan-lawan politiknya.
(Rahman Asmardika)