LAS VEGAS - Stephen Paddock (64), pelaku pembantaian massal di Las Vegas, Amerika Serikat (AS) memiliki setidaknya 42 senjata api. Data ini diungkap pihak kepolisian AS saat mencari petunjuk untuk menentukan motif penembakan massal yang menewaskan 59 orang dan melukai 527 orang lainnya.
Paddock beraksi dengan senapan otomatis di lantai 32 Mandalay Bay Resort and Casino dengan target kerumunan penonton konser musik country di sebelah resort, yakni di Las Vegas Boulevard 450. Penembakan mengerikan ini terjadi Minggu malam waktu setempat dan Paddock ditembak mati—laporan lain menyebutnya bunuh diri—setelah membunuh banyak orang.
Aksi pria bersenjata asal Mesquite ini tercatat sebagai penembakan massal paling mematikan dalam sejarah modern AS. Namun, Presiden Donald Trump dan kepolisian setempat tidak menyatakannya sebagai serangan terorisme.
(Baca juga: Stephen Paddock, Penembak Sadis di Las Vegas Itu Penjudi Profesional yang Berperilaku Ganjil)
”Kami telah menemukan 23 senjata api di Mandalay Bay dan 19 senjata api di rumahnya di Mesquite,” kata Todd Fasulo, asisten sheriff Las Vegas, sehari setelah penembakan massal terjadi. Mesquite berjarak sekitar 120 km sebelah timur laut Las Vegas di negara bagian Nevada.
”Departemen Kepolisian Metropolitan Las Vegas sedang mengerjakan dua front untuk memproses tempat kejadian perkara dan juga menyelidiki motifnya,” lanjut Fasulo, seperti dikutip Al Jazeera, Rabu (4/10/2017).
”Kami memburu dan mencatat setiap petunjuk yang bisa kami dapatkan di latar belakangnya,” papar Fasulo.
(Baca juga: Terungkap! Pelaku Penembakan di Las Vegas Simpan 23 Senjata di Kamar Hotel)
Paddock mengumbar banyak peluru dari senapan mesin militer otomatis terhadap kerumunan penonton konser yang jumlahnya lebih dari 22.000 orang. Penembakan terjadi saat penyanyi musik country Jason Aldean tampil.
Sarah Haas, salah satu korban selamat menceritakan situasi mengerikan dalam serangan Paddock. ”Boom boom boom, dan kemudian satu demi satu (tertembak),” katanya, menggambarkan orang-orang berjatuhan di tanah saat serangan terjadi.
”Kami berbaring di lantai, saya tidak tahu apakah harus bangun, berlari, bertahan, untuk berjalan pelan, saya tidak tahu apakah aman untuk bergerak karena semua yang sedang terjadi. Mengerikan,” ujarnya.