JAKARTA - Pada tahun 2012, Muradi, seorang pengajar sekaligus Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (UNPAD) mengunjungi sebuah sekolah militer di Amerika Serikat. Di sana, ia menemukan fakta membanggakan tentang sebuah karya anak bangsa yang dijadikan panduan pendidikan militer di sana.
Buku karya Jenderal Besar A.H. Nasution berjudul "Pokok-pokok Gerilya (Fundamentals of Guerrilla Warfare) nyatanya telah sejak lama dijadikan salah satu materi pembelajaran terkait perang gerilya dan kontra gerilya.
"Buku Pak Nasution itu menjadi buku wajib di banyak sekolah akademi militer. Misalnya pada 2012, saya ke Amerika Serikat, saya mengunjungi akademi militer mereka, di sana mereka menggunakan buku itu," kata Muradi kepada Okezone, Kamis (5/10/2017).
Tak hanya di Amerika Serikat. Turki dan sebagian negara Eropa juga menjadikan buku A.H. Nasution ini ke dalam kurikulum pendidikan militer mereka. Hal tersebut, menurut Muradi merupakan hal yang membanggakan.
"Nah, itu jadi materi di sana. Kemudian, akademi militer Turki juga pakai. Di banyak negara di Eropa misalnya, menggunakan buku Nasution sebagai materi pembelajaran perang gerilya. Dan itu menjadi kebanggaan," katanya.
Muradi yang mengaku telah membaca buku tersebut mengungkap sejumlah keistimewaan dari buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1953 itu. Menurut Muradi, A.H. Nasution memadukan pengalamannya dalam perang gerilya dengan sejumlah teori yang ia dapatkan semasa menjalani pendidikan militer dengan cara yang sangat apik.
"Banyak ya (keistimewaan). Karena dia mencampurkan antara pengalaman dengan teori yang ia dapatkan selama dia bersekolah militer Belanda waktu itu kan. Dan dia meramu itu," tutur Muradi.
Selain itu, Muradi mengagumi bagaimana A.H. Nasution menerjemahkan dan menceritakan kembali sudut pandang Jenderal Sudirman dalam buku itu.
"Kemudian dia mendengar apa yang dilakukan oleh Sudirman. Sebenarnya praktiknya perang gerilya banyak dipraktikkan oleh Sudirman kan. Karena Pak Sudirman tidak keburu nulis, maka Pak Nasution meramu dalam bentuk tulisan. Dan itu menjadi buku 'babon' untuk pendidikan kontra perang gerilya. Jadi perang gerilya dan perang kontra gerilya," paparnya.
(ydp)
(Amril Amarullah (Okezone))