HARARE – Emmerson Mnangagwa akhirnya resmi dilantik sebagai Presiden Zimbabwe menggantikan Robert Mugabe. Pria berjuluk ‘Si Buaya’ itu berjanji untuk mengabdi bagi semua warga Zimbabwe tanpa terkecuali.
BACA JUGA: Emmerson 'Buaya' Mnangagwa, Calon Presiden Zimbabwe yang Kontroversial
Usai diambil sumpahnya, Mnangagwa merasa sangat terhormat untuk menjabat sebagai presiden. Ia merasa apa yang terjadi hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran seluruh warga Zimbabwe dari berbagai latar belakang politik dan ras.
Mnangagwa pun nampak tidak memiliki dendam terhadap Robert Mugabe yang sempat memecatnya sebagai Wakil Presiden Zimbabwe beberapa waktu lalu. Ia justru berterima kasih kepada pendahulunya yang ia sebut sebagai ayah, mentor, rekan kerja, sekaligus pemimpin.
BACA JUGA: Hari Ini, Emmerson Mnangagwa Dilantik sebagai Presiden Zimbabwe
BACA JUGA: Buktikan Pengunduran Dirinya Bukan karena Kudeta, Mugabe Akan Hadiri Pelantikan Mnangagwa
“Tugas di tangan adalah membangun kembali negara kita. Saya dibutuhkan untuk mengabdi bagi negara ini sebagai presiden dari semua warga negara tanpa memandang warna kulit, kepercayaan, agama, suku, atau afiliasi politik,” ujar Emmerson Mnangagwa, mengutip dari BBC, Jumat (24/11/2017).
Mantan Presiden Robert Mugabe sempat berjanji akan menghadiri pelantikan tersebut. Ternyata, pria berusia 93 tahun itu ingkar janji. Salah satu pahlawan kemerdekaan Zimbabwe itu dilaporkan harus beristirahat sehingga tidak dapat hadir dalam pelantikan.
BACA JUGA: Delapan Hari Penuh Drama, Presiden Zimbabwe Akhirnya Resmi Mengundurkan Diri
Sebagaimana diberitakan, gejolak politik melanda Zimbabwe sejak dua pekan terakhir. Kondisi tersebut diawali dengan pemecatan Emmerson Mnangagwa sebagai wakil presiden oleh Robert Mugabe. Militer kemudian melakukan kudeta dan diktator yang berkuasa selama 37 tahun itu diamankan ke tempat rahasia.
BACA JUGA: Sepakat untuk Mundur, Mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe Dapat Kekebalan Hukum
Meski sudah dikudeta, Mugabe masih menolak untuk mengundurkan diri hingga partai penguasa, Partai ZANU-PF, memecatnya dari jabatan ketua. Robert Mugabe yang semakin terdesak akhirnya memutuskan mengundurkan diri pada Selasa 21 November. Ia kemudian diberikan jaminan keamanan serta kekebalan hukum sebagai imbalan dari pengunduran diri tersebut.
(Wikanto Arungbudoyo)