MANILA – Presiden Filipina, Rodrigo Roa Duterte, menginstruksikan kepada militer dan polisi untuk menembaknya jika pria asal Davao City itu memperpanjang masa jabatannya. Hal itu dilakukan demi mencegah pria berjuluk Digong tersebut dari keinginan menjadi seorang diktator.
Perkataan Duterte itu diungkapkan di tengah kabar bahwa para loyalisnya hendak mengubah konstitusi. Sebagai informasi, seorang presiden di Filipina memiliki masa jabatan selama enam tahun. Sejumlah loyalis Duterte dikabarkan tengah mengupayakan amandemen konstitusi agar pria yang dikenal suka bicara ceplas ceplos itu tetap menjabat setelah 2022.
“Bahkan jika sebelum masa jabatan berakhir, kalau saya ingin menjadi diktator, tembak saja,” ujar Presiden Rodrigo Duterte di hadapan tentaranya, mengutip dari Asian Correspondent, Selasa (23/1/2018).
“Itu adalah tugas Anda untuk melindungi konstitusi dan masyarakat. Ingat, itu adalah tugas luhur Anda. Jika saya memperpanjang masa jabatan dan ingin menjadi diktator, tembak saya. Ini bukan bercanda,” sambung mantan Wali Kota Davao City itu.
Pekan lalu, sekutu-sekutu Duterte yang berada di Majelis Rendah Parlemen memilih untuk merevisi konstitusi pada Mei mendatang. Amandemen itu akan mencabut pemilihan umum sela yang dijadwalkan berlangsung pada 2019 dan memperpanjang masa jabatan seluruh pejabat terpilih, termasuk sang presiden.