Sukemi juga belum bisa mengetahui dengan pasti, apakah banjir itu juga dipicu karena adanya tanggul yang jebol. Ia dengan aparat lainnya akan melakukan pengecekan pada Kamis (25/1). Jika ada tanggul yang jebol, segera diajukan untuk perbaikan.
Menurut dia, banjir beberapa kali memang terjadi di desa ini. Pada akhir tahun lalu, banjir yang terjadi juga dipengaruhi tanggul yang jebol. Kini, musibah yang terjadi pada awal 2018 ini justru airnya lebih tinggi ketimbang sebelumnya.
Ia berharap, hujan bisa reda turun. Dikhawatirkan, jika hujan terus turun, justru debit air bisa semakin bertambah. Masyarakat hingga kini masih di dalam rumah masing-masing dan belum dilakukan upaya evakuasi.
Sementara itu, aktivitas warga di desa itu sempat lumpuh, sebab air menggenang cukup tinggi. Warga memanfatkan banjir itu, menawarkan jasa pada warga yang terjebak banjir. Kendaraan mereka diangkut dengan gerobak, dan pemilik kendaraan memberikan imbalan uang.
(Risna Nur Rahayu)