Nasib Ojek Onthel yang Tergerus Online

Chyntia Sami Bhayangkara, Jurnalis
Sabtu 07 April 2018 13:02 WIB
Ojek online dan ojek onthel menunggu penumpang di depan Stasiun Jakarta Kota (Chyntia/Okezone)
Share :

JAKARTA – Keberadaan ojek onthel di Kota Tua, Jakarta Barat makin terancam dengan maraknya ojek online. Penumpang ojek onthel pun kini menurun drastis, seiring banyaknya warga memilih transportasi online dalam bepergian.

“Sekarang susah nyari penumpang. Semenjak ada ojek online penumpang udah jarang yang mau naik ojek onthel,” ujar Abdul (64), pengojek onthel yang sering mangkat di depan Stasiun Jakarta Kota, Kota Tua saat berbincang dengan Okezone.

Abdul sudah 28 tahun jadi ojek onthel di Kota Tua dan mengakui bahwa akhir-akhir ini rezeki anjlok. Saban hari dia bersama pengojek onthel lain mangkal di depan Stasiun Jakarta Kota, berbagi tempat dengan para ojek online. 

Namun, ojek online datang dan pergi silih berganti mengangkut penumpang. Sementara onthel mereka sering tak kebagian sewaan, jika pun ada hanya hitungan jari.

Dulu, sejak ojek online belum ada, dia bisa mendapatkan sampai Rp250 ribu setelah seharian mengayuh sepeda. Sekarang untuk dapat Rp100 ribu saja susah.

Akibat kalah saing dengan ojek online, pengojek onthel pun satu-satu angkat koper. “Dulu di sini ada lebih dari 20 an sepeda, sekarang cuma tujuh saja. Banyak yang nyerah dan balik ke kampung,” tuturnya.

Abdul, pengojek onthel di Kota Tua (Chyntia/Okezone)

Sam (71), pengojek onthel yang sering mangkal di depan Museum Bahari, Kota Tua mengeluh hal serupa. Sam bercerita dulu dia kerap mengantar penumpang sampai ke Muara Baru dan Pluit, Jakarta Utara. Kini, wilayah operasinya hanya sebatas kawasan Kota Tua dan paling jauh ke Pasar Pagi.

Ojek online kini jadi primadona bagi warga Jakarta. Selain mudah dipesan dengan gawai, harganya juga terjangkau bahwa tak perlu tawar-menawar lagi karena semua sudah tertera di sistem aplikasi. Keunggulan lain adalah lebih cepat, karena dapat melintasi jalur alternatif atau menyelip di antara kemacetan Ibu Kota.

Tarmidzi (45), seorang karyawan swasta di kawasan Gedung Panjang, Jakarta Barat atau tak jauh dari Kota Tua mengaku, tarif ojek onthel lebih mahal dibandingkan dengan tarif ojek online. Maka dia pun lebih memilih naik ojek online kalau ke kantor.

“Kalau naik ojek online saya cuma bayar Rp7 ribu saja sudah sampai sana. Kalau (ojek) onthel kan bisa Rp15 ribu. Jadi, dua kali lipat lebih mahal, ini kurang efisien,” ujar Tarmidzi.

Tarmidzi memaklumi harga ojek onthel lebih mahal, karena mengayuh sepeda memerlukan stamina lebih. Tapi, bagi masyarakat era sekarang kecepatan, kenyamanan dan efesien selalu jadi perhatian.

“Kadang kasihan sih ya sudah pada tua masih ngegowes begitu. Cuma ya gimana lagi, ojek online lebih murah,” tuturnya.

Anggun (22) warga lainnya mengatakan, meski ojek online makin banyak, dia tetap suka naik ojek onthel. Tiap ke Kota Tua, perempuan itu sering menyempatkan diri menikmati keindahan kota dengan naik onthel.

Beberapa waktu lalu, Anggun bercerita naik ojek onthel dari Stasiun Jakarta Kota menuju kawasan wisata Kota Tua dengan biaya Rp10 ribu. Padahal jika naik ojek online, paling ongkosnya hanya separuh dari itu saja. Tapi, Anggun menikmati sensasi lain dari onthel.

“Karena saya suka yang retro gitu, enggak masalah sih kalau mahal toh sesekali. Karena, tetap ada sensasi berbeda gitu ya kalau naik onthel sama motor ojek online itu jelas beda. Jadi ya lebih ke sensasinya sih. Tapi kalau misalnya untuk jadi pilihan transportasi harian masih harus mikir lagi,” tandasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya