MASIH belum lekang dalam ingatan Yuliani (51) tentang kenangan 35 tahun lalu saat layar tancap masih berjaya. Di Lapangan Pakis, Kepanjen, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, tiap Sabtu malam, dia tak pernah absen menonton pertunjukan layar tancap.
“Dulu era tahun 1980-an, layar tancap itu jadi hiburan yang paling ditunggu,” kenang Yuliani yang kini sudah berdomisili di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis 12 April 2018.
Yuliani muda tinggal di Pecinan, Klaten. Tak banyak hiburan saat itu, layar tancap salah satu paling ditunggu warga tiap malam Minggu. Apalagi kalau yang diputar film dengan aktornya Barry Prima. Pasti ramai.
Saban akhir pekan atau liburan sekolah, Lapangan Pakis selalu menyajikan film layar tancap. Layar putih besar di bentang di tengah lapangan lalu disorot dengan cahaya, muncullah adegan per adegan. Masyarakat sangat antusias menyaksikan.
Berbeda dengan bioskop, bagi Yuliani, menonton layar tancap lebih seru. Digelar di lapangan terbuka, suasanya lebih semarak dengan riuhnya penonton. Tiap adegan seru, penonton menyoraki, menambah atmosfer nonton bareng. Di lokasi, warga saling berinteraksi satu sama lain, berbagi cerita, menambah pertemanan juga.
Promo film layar tancap (foto dok Perfiki)
Karena pertunjukannya di lapangan terbuka, layar tancap kerap bubar jika hujan tiba-tiba turun, walau film lagi seru-serunya. Maka ada istilah layar tancap adalah bioskop misbar alias gerimis bubar.
Pertunjukan layar tancap juga jadi ajang pedagangan asongan mengais rezeki. Mereka berseliweran di antara kerumunan warga menawarkan beraneka ragam makanan dan minuman ringan. Ada juga yang mangkal di sudut-sudut lapangan atau pinggir jalan. Khasnya lagi, jelang pertunjukan biasanya ada orator keliling kampung mengajak warga meramaikan nonton bareng.
Tapi, 35 tahun berlalu, pertunjukan layar tancap di Lapangan Pakis tinggal kenangan. Lapangan Pakis kini juga tak selapang dulu, karena sebagian sudah berdiri bangunan rumah-rumah dan masjid.
“Layar tancap udah enggak laku lagi,” tutur Yuliani sembari memandang foto Lapangan Pakis tempat sering dia menonton layar tancap dulu.
Alat Propaganda
Layar tancap pertama kali dikenal di Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Hiburan yang menyajikan pertunjukkan film tersebut pun dijadikan sebagai alat propaganda bagi kolonial, sekaligus media penyuluhan penyakit yang sempat merajalela di nusantara kala itu.
Setelah Indonesia merdeka, layar tancap tetap jadi primadona. Era keyaannya mulai dari 1970 hingga akhir 90-an. Layar tancap menjadi salah satu media promosi film-film Indonesia. Beragam film action, komedi hingga horor disajikan via layar tancap dari kota-kota hingga pelosok desa. Layar tancap juga sering dijadikan salah satu media sosialisasi program-program pemerintah, seperti Keluarga Berencana.
Layar tancap bukan hanya sajian masyarakat pedesaan, tapi juga perkotaan. Di Jakarta misalnya, pada era tahun 90-an, layar tancap bisa ditonton di berbagai tempat.
Fazry, warga Jakarta Selatan masih ingat, tiap malam 17 Agustus era 90-an, dia sering nonton layar tancap di Tebet Dalam. “Biasanya film horor,” kata dia. “Tapi sekarang udah enggak ada lagi.”
Awaluddin, warga Jakarta Barat juga menuturkan hal serupa. Sekitar tahun 90-an, Awal yang saat itu masih bocah sering melihat pertunjukan layar tancap di Duri Kosambi, Kembangan, Taman Koja, Cengkareng, Tambora, Jakarta Barat.
Awal bercerita, era 90-an warga yang memiliki televisi tak sebanyak sekarang. Layar tancap hiburan gratis paling menyenangkan. “Tapi setelah tahun 2000 kayaknya udah enggak ada lagi, paling adanya udah di pinggiran (Jakarta),” tuturnya.
Beda dengan Bioskop
Menurut Ketua Persatuan Film Keliling Indonesia (Perfiki), Sonny Pudjisasono, layar tancap digemari karena suasana nonton barengnya yang seru.
Seluloid film layar tancap (dok Perfiki)
“Orang nonton layar tancap itu yang dibeli suasananya. Ini jadi sarana aktualisasi bagi masyarakat yang tidak bisa ditemukan di sarana hiburan modern lain seperti bioskop di gedung apalagi nonton film di rumah,” ujarnya.
Saat menonton bioskop, orang-orang cenderung pasif. Suasanya juga hening kecuali hanya suara audio dari film yang terdengar menguasai ruangan. Tak ada riuh rendah suara penonton, sorakan, pekik keguman atau bahkan suara tangis bayi seperti suara yang kerap terdengar di pertunjukan layar tancap.
Sonny Pudjisasono menuturkan, masyarakat Indonesia yang didominasi para petani dan hidup di pedesaan membutuhkan hiburan yang mudah dicerna, salah satunya layar tancap.
“Masyarakat kita itu adalah masyarakat agraris yang dari pagi sampai sore ada di ladang, mereka capek. Walaupun sudah ada koran masuk desa pada waktu itu, mereka lebih senang dengan informasi pandang dengar dari film ini. Lebih simple dan mudah dicerna,” ujar Sonny.
Sonny mengakui penonton layar tancap menurun drastis seiring dengan kemajuan teknologi digital dan bertaburnya bioskop-bioskop modern. Era digital telah memudahkan masyarakat menonton film melalui TV berlangganan, komputer, laptop bahkan gawai. Internet memanjakan penikmat film. Sejurus kemudian, layar tancap pun tergerus.
Terus dilestarikan
Tapi layar tancap, menurut dia, tak akan mati. Hanya saja pangsa pasarnya bergeser. Pengusaha layar tancap yang masih tersisa kini menyasar desa-desa pinggiran terutama di Pulau Jawa, memberi hiburan bagi masyarakat-masyarakat yang masih jauh dari akses bioskop. Selebihnya adalah menawarkan paket pertunjukkan untuk acara hajatan pernikahan atau khitanan.
“Kalau enggak disiasati begini, pasti layar tancap sudah punah,” kata Sonny.
Hal itu diakui Aminah (46), pemilik usaha layar tancap CV Pendi Film di Kampung Babakan RT 04 RW 04, Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat. Dia mengakui kini usahanya sepi peminat. "Layar hanya keluar 2 dalam setahun. Beda sama 10 tahun lalu, ramai sekali. Bisa keluar 5 layar, paling sedikit dua," katanya.
Aminah menuturkan, saat layar tancap masih berjaya, dia sering dapat orderan bukan saja di Bekasi, tapi juga Bogor hingga Karawang. Sehari dia bisa meraup Rp1 sampai 2 juta. Tapi sekarang pendapatnya anjlok drastis.
Aminah, pengusaha layar tancap (Wijayakusuma/Okezone)
Pun demikian, Aminah belum berniat pensiun dari layar tancap. Pasar disasarnya kini hajatan-hajatan, meski orderannya tetap minim. "Tidak ada niat berhenti usaha. Dibiarkan saja alat-alat filmnya.”
Menurut Sonny, beberapa pengusaha layar tancap kini mulai hijrah menjajakan jasa pemutaran layar tancap di daerah pinggiran luar Pulau Jawa seperti Kalimantan. Layar tancap, kata Sonny, adalah hiburan merakyat yang harus terus dilestarikan.
Budayawan, Ngatawi Al Zastrouw berharap layar tancap bisa terus dilestarikan. “Layar tancap masih sangat mungkin untuk dibumikan, kerjasama seluruh stakeholder sangat penting untuk membangkitkan gairah penikmatnya. Para kreator juga harus menciptakan kreasi dan inovasi untuk menarik generasi milenial sebagai pangsa pasar,” ujarnya.