HARI ini, tepat 1688 tahun yang lalu –11 Mei tahun 330– sebuah megapolitan dunia diresmikan. Terletak di wilayah strategis sebagai penghubung daratan Eropa dan Asia, serta jalur Laut Hitam ke Laut Meditrania, Kaisar Konstantin membangun kekaisaran Romawi yang kotanya dikenal sebagai Nova Roma (Roma yang Baru). Yang lain menyebutnya Roma Kedua, Romawi Timur, dan Roma Konstantinopolis.
Dari beberapa nama di atas, sebutan terakhir mungkin yang paling terkenal, dan populer sebagai Konstantinopel. Konstantinopolis atau Konstantinopel bermakna “Kota Konstantin”, diambil dari nama Kaisar Konstantin yang berkuasa di daerah yang dibangun selama enam tahun tersebut.
Pembangunan Konstantinopel bukan dari nol. Sejak awal wilayah tersebut adalah wilayah strategis dan dikenal sebagai Byzantium. Kota besar yang dikuasai oleh Raja Byzas dari Megara, dan menjadi salah satu pusat niaga. Sebagaimana Konstantinopel, Byzantium sebelumnya juga diambil dari nama Raja Byzas, yang dikisahkan menguasai wilayah itu setelah meminta nasihat dari Orakel di Delpi.
Kelihatannya penamaan kota ini banyak melekat dari nama penguasa, sampai akhirnya ia jatuh ke tangan Turki dan mengganti namanya menjadi Istanbul –dari kata istimbolin yang berarti “dalam kota”– seperti yang kita kenal sekarang.
* * *
Hari ini, tepat satu bulan yang lalu –11 April 1971– seorang pria bernama Dedi Mulyadi lahir di Subang, Jawa Barat. Kelahiran yang mudah diingat karena diabadikan oleh komedian Sunda, Entis Sutisna (Sule) dalam lagu berjudul “Kang Dedi Urang Lembur”.
(Foto: Istimewa)
Mantan Bupati Purwakarta dua periode ini bukan seorang penakluk seperti Kaisar Konstantin dari Romawi. Ia juga tidak pernah meminta wangsit kekuasaan seperti Raja Byzas dari Yunani. Tapi ada penggalan kisah menarik yang membuat Kang Dedi, dalam satu hal, layak sejajar dengan mereka.
Jika di tahun 2017, pada ulang tahunnya yang ke-46, salah satu hadiah yang paling berkesan adalah lagu yang didedikasikan Sule untuknya. Tahun 2018 ini, mungkin kado terbesarnya datang dari Kampung Biru, Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Bagaimana tidak, alih-alih urunan memberikan sebentuk barang, seluruh warga Kampung Biru sepakat mengubah nama kampung mereka demi Kang Dedi.
Tidak tanggung-tanggung. Dalam peresmian yang dilakukan lima hari setelah kelahiran Kang Dedi, Senin, 16 April 2018, mereka ternyata bahkan mengganti nama kampungnya dengan nama Kang Dedi sendiri. Sehingga kini kampung tersebut dikenal menjadi Kampung Dedi Mulyadi.
* * *
Dari segi penamaan wilayah yang diambil dari tokoh semasih hidup, sosok yang juga dikenal sebagai Ki Sunda ini, sama dengan Raja Byzas dan Kaisar Konstantin. Yang berbeda adalah nuansanya.
Jika penamaan dari kedua legenda tersebut masih identik dengan penguasaan, Kang Dedi tidak demikian. Penamaan itu justru diberikan orang kepadanya sebagai penghormatan, padahal ia tidak tinggal di wilayah itu.
(Foto: Istimewa)
Kehadiran Kang Dedi sebagai orang luar yang justru diminta datang ke Kampung Biru, lebih mirip dengan penghormatan yang pernah diberikan oleh penduduk Yatsrib kepada Nabi Muhammad pada tahun 622.
Setelah bertahun-tahun suku Aus dan Khazraj bermusuhan dan melalui perang saudara, Sang Nabi diminta hijrah ke sana dan berhasil menghapuskan permusuhan mereka. Sebagai penghormatan, mereka pun mengganti nama Yatsrib menjadi Madinatun Nabi (Kota Nabi).
Sebutan lainnya adalah Madinatun Munawwaroh (Kota yang Bercahaya), yang populer sebagai Madinah.
* * *
“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Apalah arti sebuah nama? Yang kita sebut sebagai mawar, diganti dengan nama apapun, tetap saja akan wangi.
William Shakespeare boleh saja tidak mempermasalahkan nama saat berkata demikian. Tapi dalam kontestasi politik, penamaan sangat berpengaruh pada pemenangan.
Berubahnya nama Kampung Biru menjadi Kampung Dedi Mulyadi misalnya. Penamaan ini bukan hanya menunjukkan kepercayaan lebih pada orang luar, tetapi juga bisa berarti lebih tidak mempercayai orang dalam.
Kampung Biru bukan sekadar salah satu kampung Provinsi Jawa Barat (Jabar). Ia berada di Kota Bandung, yang merupakan Ibukota Provinsi Jabar. Sikap kompak mereka tentu akan melahirkan kesan yang cukup mewakili kondisi masyarakat Kota Bandung yang sekaligus Ibukota provinsi, di mana mereka rupanya lebih mengidolakan orang lain daripada pemimpin kotanya sendiri.
Ini seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang ikut kontestasi Pilkada Jabar. Bahwa jika di wilayahnya sendiri saja ada ketidakpuasan padanya sebesar ini, lalu bagaimana dengan wilayah lain.
Padahal ia seharusnya diuntungkan oleh fakta bahwa ia sudah menjabat, sehingga ia mestinya lebih akrab dikenali masyarakat Ibukota Jabar. Bukan hanya dari popularitas media, tapi dari kedekatan langsung dengan masyarakat.
Terlepas dari bagaimana pola komunikasi Walikota mereka sesungguhnya, penggalan kisah warga Kampung Biru ini akan menjadi penanda sejarah Jawa Barat ke depannya. Yakni warga Kampung Biru –kini menjadi Kampung Dedi Mulyadi– sudah mengambil sikap dan menentukan pilihan.
Mereka berharap bahwa sosok yang menjadi nama kampungnya ini, bisa memimpin mereka hijrah ke esok yang lebih baik. Dari haru biru menuju hari baru.
Fakhruddin Muchtar
Penulis adalah Direktur Rephilosophy Public Community (Republic).