WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menerima surat yang disebutnya sangat menarik dari utusan senior Korea Utara (Korut), Jenderal Kim Yong-chol, meski belum membukanya. Dengan ukuran “raksasa”, surat yang dikirim untuk Trump itu tersebut tampak berbeda dibandingkan surat lainnya.
Melansir BBC Indonesia, Sabtu (2/6/2018), setelah menerima surat itu, Donald Trump mengumumkan akan mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan pemimpin Korut, Kim Jong-un, di Singapura, pada 12 Juni 2018. Rencana pertemuan itu diumumkan setelah Trump menjamu utusan senior Korea Utara di Gedung Putih.
Trump mengatakan, persoalan Perang Korea akan dibahas secara resmi dalam pertemuannya dengan Kim Jong-un di Singapura.
Perang Korea yang berlangsung pada1950-1953 berakhir melalui gencatan senjata, dan bukan dalam perjanjian perdamaian yang bersifat final.
"Kami akan bertemu pada 12 Juni di Singapura. Semuanya berjalan sangat baik," kata Presiden Trump kepada wartawan di halaman Gedung Putih.
Trump mengingatkan bahwa KTT tersebut kemungkinan tidak mencapai kesepakatan final perihal program nuklir Korut.
"Saya tidak pernah mengatakan persoalan tersebut akan tuntas dalam sekali pertemuan. Saya pikir itu membutuhkan proses, tetapi hubungan yang sedang kami bangun itu sangat positif," katanya.
Rencana pertemuan Trump dan Kim Jong-un akan menjadi peristiwa bersejarah karena merupakan pertemuan pertama kali antara pemimpin AS dan Korea Utara.
Presiden Trump telah menawarkan bantuan untuk membangun kembali ekonomi Utara apabila negara itu menghapus program senjata nuklirnya.
Adapun Kim Jong-un mengatakan dia berkomitmen untuk melakukan program "denuklirisasi" , walaupun masih belum jelas seperti apa bentuk pelaksanaan teknisnya.
Kunjungan Utusan khusus Korut, Jenderal Kim Yong-chol ke Washington terjadi sehari setelah dia bertemu Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo di New York.
Pompeo menggambarkan pembicaraan mereka tentang program denuklirisasi "substantif".
"Presiden Trump dan saya percaya bahwa Kim adalah pemimpin yang dapat membuat keputusan seperti itu. Dan beberapa pekan dan bulan ke depan, kami memiliki kesempatan untuk menguji apakah ini benar atau tidak," katanya.