JAKARTA – Merayakan Lebaran di kampung halaman menjadi tujuan banyak pemudik melakukan perjalanan sebelum hari raya. Hal itulah yang menyebabkan volume kendaraan melebihi kapasitas jalan raya, bahkan tak jarang menyebabkan kemacetan hingga puluhan kilometer.
Pada kondisi tersebut, pemudik harus jeli memilih waktu perjalanan serta menyiapkan manajemen perjalanan yang sesuai agar terhindar dari kemacetan. Mengemudi di waktu berpuasa juga memerlukan waktu istirahat yang jauh lebih banyak dibandingkan mudik di hari biasa.
Perlu diperhatikan, bagi pengemudi yang melakukan perjalanan masih dalam kondisi berpuasa. Untuk mengemudi aman saat berpuasa, Jusri Pulubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), memberikan beberapa tips penting bagi pengemudi.
Tips itu, di antaranya pengemudi harus memperhatikan kualitas tidur yang dinilai berbeda jauh dengan hari biasa. Usahakan jarak antara sahur dan waktu subuh tidak terlalu jauh, agar kualitas istirahat cukup.
Meski ketahanan mengemudi menggunakan mobil batas maksimum hingga 10 jam, usahakan kurangi hingga 8 jam. "Jika biasanya 10 jam kurangi 8 jam, bisa juga 10 jam, namun perlu diperbanyak istirahatnya," ungkap Jusri, kepada Okezone, beberapa waktu lalu.
Ia menambahkan, dengan waktu istirahat yang cukup, dinilai bisa membantu stamina tubuh pengemudi dalam melakukan perjalanan meski tetap menjalankan ibadah berpuasa.
"Jika pengemudi memaksakan diri mengemudi melebihi batas kemampuan tubuh, dikhawatirkan bisa mengganggu konsentrasi saat berkendara yang berakibat terhadap risiko kecelakaan," paparnya.
Menurut Jusri Pulubuhu, Head of Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), sangat penting bagi pengemudi mengembalikan tenaga dan stamina selama melakukan perjalanan mudik, salah satunya dengan istirahat berkualitas selama 15 menit.
"Untuk mendapatkan tidur berkualitas selama 15 menit, saat akan istirahat, kita harus terhindar dari noise suara dan cahaya," ujar Jusri saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.
Ia melanjutkan, agar terhindar dengan gangguan suara dan cahaya, telinga perlu disumbat menggunakan silicon ear plug dan masker penutup mata. Hal terpenting yakni cari lokasi untuk istirahat yang cukup nyaman dan seluruh badan bisa dalam posisi lurus saat tidur.
"Dengan istirahat berkualitas ini, stamina dan tenaga akan cepat kembali secara maksimal serta pemudik bisa melanjutkan perjalanan dengan konsentrasi penuh agar selamat di jalan," katanya.
Dalam melakukan perjalanan, pemudik juga harus mengenal karakter, jalan tol yang menghubungkan beberapa wilayah di pulau Jawa mulai terintegrasi, meski demikian jalan sepanjang ratusan kilometer tersebut dibangun menggunakan material beton.
Perlu diperhatikan bagi pemudik, dengan kondisi jalan beton yang ada saat ini, ban kendaraan akan mudah terkikis, terlebih jika berkendara di siang hari. Suhu panas beton dan karet akan menambah tingkat keausan ban itu sendiri.
Bahkan, menurutnya, ban akan lebih cepat lagi habis jika jalan beton itu bergaris. Sementara di jalan beton yang mulus ban akan lebih awet.
(Baca Juga : Panduan Mudik dan Arus Balik Lebaran 2018)
"Saya pikir semua ban lebih cepat abrasi di jalan beton, tapi saya tidak punya persentase untuk membandingkannya perbedaannya dengan di jalan aspal," ujarnya kepada Okezone.
Karena cepat habis itu pula, kata dia, banyak pengemudi yang mengeluhkan jalan beton. "Memang jalan beton bergaris itu membuat cengkraman ban ke jalan lebih mantap, tapi konsekuensinya ban cepat habis," tambahnya.
(Baca Juga : Wujudkan Mudik Bahagia di Tahun Politik)
Lebih lanjut Rozi menjelaskan bahwa ban cepat habis di jalan beton karena gesekan dengan permukaan kasar membuat roda cepat abrasi. Sementara aspal yang cenderung lebih halus membuat daya gesek lebih minim.
(Erha Aprili Ramadhoni)