Yahya Staquf ke Israel Tuai Kecaman, Indonesia Tegaskan Tetap Dukung Palestina

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Kamis 14 Juni 2018 07:40 WIB
Yahya Cholil Staquf saat jadi pembicara di diskusi diprakarsai AJC Global Forum di Israel (AJC)
Share :

Yahya mengakui bahwa hubungan antara Islam dan Yahudi adalah hubungan yang fluktuatif, tergantung dinamika sejarah yang terjadi.

"Tapi secara umum kita harus mengakui bahwa ada masalah dalam hubungan dua agama ini dan salah satu sumber masalahnya terletak pada ajaran agama itu sendiri. Dalam konteks realitas saat ini, kaum beragama baik Islam maupun Yahudi perlu menemukan cara baru untuk pertama-tama memfungsikan agama dalam kehidupan nyata," ujar Yahya dalam bahasa Inggris.

Kendati berkunjung dalam kepentingan akademik dan tidak dalam kepentingan politik, tetap saja, lawatan Yahya menuai kecaman.

Kementerian Luar Negeri Palestina menganggap partisipasi dalam acara-acara ini merupakan pukulan bagi negaranya. Partisipasi delegasi juga bertentangan dengan posisi pemerintah Indonesia yang selalu menyatakan penolakan mereka terhadap pendudukan Israel di Palestina.

Bentrok Gaza: Puluhan warga Palestina tewas, ribuan terluka.

"Pihak Palestina menganggap peristiwa ini sebagai bagian dari kampanye Israel menyesatkan yang ditujukan untuk tampil dengan wajah yang beradab dan budaya yang menyerukan perdamaian, konvergensi dan dialog antaragama," tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Palestina.

Senada, Ketua Komunitas Palestina di Indonesia, Murad Halayqa, memandang kunjungan ini sebagai kekecewaan besar bagi rakyat Palestina, terutama lantaran posisinya sebagai tokoh agama dan pejabat negara.

"Langkah ini diambil pada waktu yang tidak sesuai ketika Israel melanjutkan kebijakanya yang rasis dan agresif terhadap rakyat Palestina, di mana ratusan pengunjuk rasa damai dibunuh dan ribuan terluka oleh tentera Israel sejak Maret yang lalu dalam rangka partisipasi di Great March of Return di Gaza," tulis Murad dalam keterangannya.

Lawatan Yahya dilakukan menyusul tindakan keras tentara Israel terhadap demonstran Palestina di Jalur Gaza sejak 30 Maret lalu yang disebut Great March of Return untuk mengenang terusirnya warga Palestina dari tanahnya yang diduduki Israel. Lebih dari 120 warga Palestina tewas dan 3.700 lainnya luka-luka oleh tentara Israel.

Ini pula yang ditegaskan oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri MUI, Mahyuddin Junaidi, yang menuding Yahya melukai perasaan komunitas Islam karena lawatan dilakukan ketika konflik Israel-Palestina di Jalur Gaza dalam beberapa bulan terakhir menewaskan ratusan warga sipil.

Namun Adriana Elisabeth dari LIPI menegaskan bahwa semestinya publik tak mencampur adukkan agama dengan politik.

Presiden Jokowi (Antara)

"Ini tidak ada urusan agama sama sekali. Ini urusan kita dengan Palestina adalah persoalan kemanusiaan, persoalan HAM yang Indonesia punya concern tinggi," kata Adriana.

"Jadi tidak tepat kalau kemudian menganggap solidaritas Indonesia ke Palestina berbasis agama. Itu sama sekali keliru. Ini publik dalam negeri yang harus paham juga," tegasnya.

Isu Palestina jadi prioritas utama

Presiden Joko Widodo yang mengetahui perihal lawatan penasehatnya ke Israel, menegaskan dia berangkat bukan bagian dari diplomasi pemerintah Indonesia, namun atas urusan pribadi.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya