Diancam Anggota Geng, "Saya Harus Membesarkan Anak Ini, Kalau Menolak Akan Dibunuh"

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 28 Juli 2018 11:01 WIB
Perempuan dipaksa mengasuh anak-anak orang lain di bawah pengawasan anggota geng (Oliver De Ros/BBC)
Share :

Mereka yang menolak atau mencoba melaporkannya ke polisi akan dibunuh.

Seperti halnya Damary, Maria juga tiba-tiba saja dipaksa menjadi ibu, meski anak yang ia besarkan bukan bayi, tapi anak laki-laki berusia delapan tahun.

Semuanya berawal ketika kegiatan anak-anak di gereja di dekat rumahnya selesai pada suatu hari Sabtu.

Maria adalah salah satu warga yang membantu mengorganisir kegiatan ini.

Pada Sabtu tersebut, semua anak sudah diambil oleh orang tua mereka, kecuali anak laki-laki bernama Andreas.

Maria mengantarkan Andreas pulang, namun rumahnya kosong. Dicoba beberapa kali, tetap saja tak ada orang di rumah Andreas.

Akhirnya, Maria memutuskan Andreas untuk sementara tinggal di rumahnya sambil menunggu diserahkan ke orang tua atau kerabatnya.

Keesokan harinya, Maria menerima telepon.

"Terdengar suara laki-laki dan ia menyatakan saya sekarang yang bertanggung jawab mengasuh Andreas," tutur Maria.

"Jika terjadi hal-hal yang tidak mengenakkan terhadap Andreas, saya yang bertanggung jawab. Ia mengatakan tahu siapa saya dan tahu di mana keluarga saya," kata Maria.

Ini adalah ancaman terhadap Maria dan ia tak bisa berbuat banyak selain harus mengasuh Andreas.

Saya bertanya apakah Maria mengenali suara laki-laki di ujung telepon.

"Saya tak perlu tahu siapa dirinya ... mendengar suaranya sudah cukup untuk tahu siapa dia," katanya.

Sejak itu Maria sering menerima telepon. Kadang tak ada suara di ujung sana, hanya suara nafas yang terdengar, untuk mengingatkan Maria bahwa seseorang mengawasinya.

Ibu Maria ingin membantu mengasuh Andreas tapi tak banyak yang bisa ia lakukan.

"Ia mengatakan anggap saja Andreas sebagai berkah keluarga. Hanya dia dan saudara laki-laki saya yang tahu siapa Andreas," kata Maria.

Maria mengatakan dirinya mencintai Andreas tapi di lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Andreas diasuh oleh orang tua kandungnya.

Sulit untuk mengetahui secara pasti berapa jumlah perempuan di El Salvador yang dipaksa mengasuh anak orang lain.

Tapi menurut Factum, majalah investigatif di Amerika Tengah, di Barrio 18 saja terdapat setidaknya 12 perempuan yang dipaksa mengasuh anak-anak anggota geng penjahat.

Meski demikian, pemerintah sepertinya 'tak mau tahu'. CONNA, badan pemerintah yang mengurusi hak-hak anak mengatakan mereka tak tahu ada anak anggota geng yang diasuh oleh keluarga lain.

Karena tidak ada dukungan pemerintah, perempuan seperti Damary dan Maria menggantungkan bantuan dari LSM.

Kaum perempuan yang mengasuh anak anggota geng tidak punya kebebasan.

Marcela, yang membesarkan anak laki-laki yang sekarang berusia empat tahun, mengatakan bahwa semua pergerakan dirinya dan anak yang ia asuh harus mendapat persetujuan geng.

Ini berlaku untuk urusan ke luar rumah hingga yang lebih serius seperti pindah ke permukiman lain.

Tony (4) sudah tahu kode-kode dipakai anggota geng (Oliver De Ros/BBC)

Tony, demikian nama panggilan anak yang diasuh Marcela, tak punya dokumen kelahiran dan ini akan menjadi masalah kelak di kemudian hari.

"Bagaimana kamu nanti mendaftarkan anak ini ke sekolah," tanya saya ke Marcela.

Ia menjawab, "Saya akan coba mencari akta kelahirannya di kantor wali kota."

"Bagaimana kalau harus ke rumah sakit dan pihak rumah sakit bertanya soal dokumen kelahiran?" tanya saya lebih lanjut.

"Saya tak tahu...," kata Marcela. "Saya mungkin akan meminta bantuan orang lain...," imbuhnya.

Bagi geng-geng penjahat, perempuan dibagi menjadi tiga: kekasih, kolaborator, dan budak seks.

Kini adalah satu tambahan kategori, ibu asuh. Ini adalah cara baru bagi mereka untuk memperbudak perempuan.

Dan bagi perempuan yang menjadi korban, mereka tak punya pilihan.

Jika menolak, nyawa mereka akan melayang

(Salman Mardira)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya