Tokoh-Tokoh Muda Dunia yang Memimpin Negara

Rahman Asmardika, Jurnalis
Minggu 28 Oktober 2018 11:36 WIB
Shamma al Mazrui. (Foto: NYU Abu Dhabi)
Share :

KAUM muda memainkan peran penting di dalam pemerintahan sebuah negara, tetapi sebagai pemangku jabatan, para pemuda jarang dipertibangkan dibandingkan tokoh-tokoh yang lebih senior dan berpengalaman. Namun, hal itu tampaknya telah berubah dalam satu dekade terakhir.

Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak politisi muda yang dipercaya memegang jabatan tinggi di pemerintahan, bahkan beberapa di antaranya menjadi pimpinan negara dan pengambil keputusan dengan pencapaian yang tidak kalah dari para politisi berusia lebih senior.

Tokoh seperti Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau adalah contoh dari pemipin muda dunia yang telah memangku jabatan tertinggi di negaranya. Selain mereka, nama-nama tokoh muda lain seperti Shamma al Mazrui, Syed Saddiq, Sebastian Kurz dan Jacinda Ardern juga dapat membuktikan bahwa kaum muda siap menjalankan tanggungjawab mengelola negara, berikut profil empat pejabat muda dunia tersebut:

Shamma al Mazrui

Usianya baru 24 tahun, tetapi dia telah dipercaya untuk memegang jabatan menteri, sebuah jabatan prestisius di negaranya. Usia muda tidak menghalangi Shamma al Mazrui untuk menjalankan pekerjaan yang biasanya diserahkan kepada orang-orang yang berpengalaman.

Shamma berusia 22 tahun saat dia dilantik menjadi menteri negara urusan kepemudaan di Uni Emirat Arab pada 2016, menjadikannya menteri termuda di dunia pada saat itu. Perempuan kelahiran 1994 itu dinilai memiliki kemampuan untuk memangku jabatan tersebut oleh Perdana Menter Mohammad bin Rashid al Maktoum.

Setelah meraih gelar di bidang ekonomi dari Universitas New York Abu Dhabi, Shamma melanjutkan pendidikannya ke jurusan kebijakan publik Universitas Oxford, Inggris dan lulus pada 2015. Shamma yang aktif sebagai aktivis kemudian bekerja di perusahaan investasi Abu Dhabi sekaligus sebagai analis publik di misi Abu Dhabi untuk PBB sebelum ditunjuk menjadi menteri urusan kepemudaan pada Februari 2016.

(Baca juga: Semangat Sumpah Pemuda di Era Milenial)

Sebagai menteri urusan kepemudaan, dia membuka Dewan Pemuda Nasional Uni Emirat Arab yang mengumpulkan pemuda-pemudi berprestasi dari berbagai bidang dan latar belakang untuk menyampaikan urusan-urusan kepemudaan kepada pemerintah. Dia juga membentuk sebuah lingkar kepemudaan yang membuat para pemuda dan pemudi di negara Teluk itu untuk mendaftar dan berpartisipasi dalam pertemuan konsultatif mengenai isu-isu penting seperti perubahan iklim.

Syed Saddiq Syed Abdul Rahman

Seperti Shamma al Mazrui, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, atau yang dikenal sebagai Syed Saddiq juga ditunjuk sebagai menteri pada usia muda. Pria berusia 25 tahun itu diangkat menjadi menteri pemuda dan olahraga Malaysia di bawah pemerintahan Perdana Menteri Mahathis Mohammad pada Juli 2018 lalu.

Anak bungsu dari empat bersaudara itu aktif di bidang politik sejak di bangku kuliah. Syed Saddiq yang menempuh pendidika di Royal Military College dan Universitas Islam Internasional Malaysia itu bahkan menolak beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Oxford, Inggris demi terus aktif berpolitik, meski pada akhirnya dia tetap menjalani pendidikan pascasarjananya di Oxford di bidang kebijakan publik.

Sebelum ditunjuk sebagai menteri pemuda dan olahraga oleh Perdana Menteri Mahathir, bujangan kelahiran 6 Desember 1992 itu aktif sebagai meimpin sayap pemuda Partai Bersatu, pimpinan Mahathir Mohammad. Dia juga terpilih sebagai anggota parlemen Malaysia mewakili Muar, Johor.

Bulan lalu, Saddiq datang ke Indonesia untuk melihat persiapan penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang, dia juga sempat bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memanggilnya dengan nama “Bro Saddiq”. Di bidang kepemudaan, Saddiq menginginkan pengurangan batas terendah usia pemilih di Malaysia dari saat ini 21 tahun menjadi 18 tahun.

Sebastian Kurz

Karier Sebastian Kurz di bidang politik dan pemerintahan meroket dalam satu dekade terakhir, sejak dia ditunjuk menjadi pimpinan sayap pemuda Partai Rakyat Austria, partai berkuasa di negara itu. Pria berusia 31 tahun itu tampaknya telah menentukan pilihan hidupnya sebagai politisi saat dia memutuskan untuk meninggalkan bangku kuliah untuk berpolitik pada 2005.

Setelah memimpin sayap pemuda Partai Rakyat yang berkuasa pada 2009, Kurz duduk sebagai anggota dewan kota di kota kelahirannya, Wina, pada 2010. Setahun kemudian Kurz ditunjuk untuk mengisi posisi Menteri Negara untuk Integrasi yang baru dibentuk.

Pengalamannya sebagai menteri yang menangani masalah integrasi membuat Kurz ditunjuk sebagai Menteri Luar Negeri Austria pada 2013. Dia menjadi menteri termuda sepanjang sejarah Austria dan menteri luar negeri termuda di dunia pada saat itu.

Dia berperan dalam berbagai kebijakan luar negeri penting Austria, termasuk perjanjian program nuklir antara Iran dan lima kekuatan dunia di mana Austria bertindak sebagai tuan rumah. Pencapaiannya itu membuatnya kemudian terpilih sebagai pimpinan Partai Rakyat Austria pada 2017.

Sebagai menteri luar negeri, Kurz juga diberi tanggngjawab untuk menangani integrasi sosial di Austria yang tengah memiliki masalah dengan imigran. Dia mengajukan sejumlah kebijakan kontroversial untuk mencegah ekstremisme seperti meregulasi versi Al-Quran yang diizinkan beredar di Austria dan pembatasan pendanaan masjid, tetapi juga meperkenalkan kebijakan yang memberikan lebih banyak hak kepada warga Muslim seperti makanan halal.

Pada 2017, Kurz mendapat dukungan lebih dari 95 persen anggota Partai Rakyat untuk menggantikan Reinhold Mitterlehner yang mengundurkan diri Mei. Posisi ini kemudian menjadikan Kurz sebagai kanselir setelah dia diminta membentuk pemerintahan baru pada Desember 2017.

Jacinda Ardern

Jacinda Ardern adalah perdana menteri termuda Selandia Baru sepanjang 150 tahun sejarah negara itu, dan merupakan salah satu pemimpin perempuan termuda di dunia. Meski berusia muda, karier perempuan berusia 37 tahun itu di dunia politik bisa dibilang cukup padat dan tidak kalah pengalaman dengan politisi senior Selandia Baru lainnya.

Ardern menjabat sebagai perdana menteri Selandia Baru setelah partai yang dipimpinnya, Partai Buruh, berkoalisi dengan partai minoritas, First Party pada pemilihan 2017. Dengan tambahan suara dari Partai Hijau, koalisi tersebut mendapatkan suara mayoritas di parlemen Selandia Baru.

Sebelum terpilih sebagai perdana menteri, Ardern telah duduk sebagai anggota parlemen Selandia Baru selama hampir 10 tahun sejak 2008. Dia mengawali karier sebagai peneliti di kantor Perdana Menteri Helen Clark sebelum kemudian bekerja di Inggris sebagai penasihat kebijakan bagi Perdana Menteri Tony Blair sampai 2008.

Dalam beberapa bulan sejak awal 2017, karier Ardern menanjak dengan cepat. Setelah mendapat suara aklamasi untuk menjabat sebagai wakil ketua Partai Buruh pada Maret 2017, pada 1 Agustus 2017, Ardern dipilih menjadi ketua Partai Buruh menggantikan Andrew Little yang mengundurkan diri. Sebulan kemudian, pada September 2017 dia terpilih sebagai Perdana Menteri Selandia Baru.

Kesibukannya sebagai perdana menteri tidak menghalanginya untuk menjadi seorang ibu. Pada Juni 2018, Ardern melahirkan seorang bayi perempuan yang dikandungnya sejak terpilih sebagai pemimpin Selandia Baru. Ardern mengatakan bahwa dia mengetahui kehamilannya enam hari sebelum menjabat sebagai perdana menteri.

September lalu dia bahkan membawa Neve, putrinya yang baru berusia tiga bulan ke ruang sidang umum PBB di New York yang dihadirinya.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya