KAUM muda memainkan peran penting di dalam pemerintahan sebuah negara, tetapi sebagai pemangku jabatan, para pemuda jarang dipertibangkan dibandingkan tokoh-tokoh yang lebih senior dan berpengalaman. Namun, hal itu tampaknya telah berubah dalam satu dekade terakhir.
Dalam beberapa tahun belakangan, semakin banyak politisi muda yang dipercaya memegang jabatan tinggi di pemerintahan, bahkan beberapa di antaranya menjadi pimpinan negara dan pengambil keputusan dengan pencapaian yang tidak kalah dari para politisi berusia lebih senior.
Tokoh seperti Presiden Prancis, Emmanuel Macron, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau adalah contoh dari pemipin muda dunia yang telah memangku jabatan tertinggi di negaranya. Selain mereka, nama-nama tokoh muda lain seperti Shamma al Mazrui, Syed Saddiq, Sebastian Kurz dan Jacinda Ardern juga dapat membuktikan bahwa kaum muda siap menjalankan tanggungjawab mengelola negara, berikut profil empat pejabat muda dunia tersebut:
Shamma al Mazrui
Usianya baru 24 tahun, tetapi dia telah dipercaya untuk memegang jabatan menteri, sebuah jabatan prestisius di negaranya. Usia muda tidak menghalangi Shamma al Mazrui untuk menjalankan pekerjaan yang biasanya diserahkan kepada orang-orang yang berpengalaman.
Shamma berusia 22 tahun saat dia dilantik menjadi menteri negara urusan kepemudaan di Uni Emirat Arab pada 2016, menjadikannya menteri termuda di dunia pada saat itu. Perempuan kelahiran 1994 itu dinilai memiliki kemampuan untuk memangku jabatan tersebut oleh Perdana Menter Mohammad bin Rashid al Maktoum.
Setelah meraih gelar di bidang ekonomi dari Universitas New York Abu Dhabi, Shamma melanjutkan pendidikannya ke jurusan kebijakan publik Universitas Oxford, Inggris dan lulus pada 2015. Shamma yang aktif sebagai aktivis kemudian bekerja di perusahaan investasi Abu Dhabi sekaligus sebagai analis publik di misi Abu Dhabi untuk PBB sebelum ditunjuk menjadi menteri urusan kepemudaan pada Februari 2016.
(Baca juga: Semangat Sumpah Pemuda di Era Milenial)
Sebagai menteri urusan kepemudaan, dia membuka Dewan Pemuda Nasional Uni Emirat Arab yang mengumpulkan pemuda-pemudi berprestasi dari berbagai bidang dan latar belakang untuk menyampaikan urusan-urusan kepemudaan kepada pemerintah. Dia juga membentuk sebuah lingkar kepemudaan yang membuat para pemuda dan pemudi di negara Teluk itu untuk mendaftar dan berpartisipasi dalam pertemuan konsultatif mengenai isu-isu penting seperti perubahan iklim.
Syed Saddiq Syed Abdul Rahman
Seperti Shamma al Mazrui, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, atau yang dikenal sebagai Syed Saddiq juga ditunjuk sebagai menteri pada usia muda. Pria berusia 25 tahun itu diangkat menjadi menteri pemuda dan olahraga Malaysia di bawah pemerintahan Perdana Menteri Mahathis Mohammad pada Juli 2018 lalu.
Anak bungsu dari empat bersaudara itu aktif di bidang politik sejak di bangku kuliah. Syed Saddiq yang menempuh pendidika di Royal Military College dan Universitas Islam Internasional Malaysia itu bahkan menolak beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Oxford, Inggris demi terus aktif berpolitik, meski pada akhirnya dia tetap menjalani pendidikan pascasarjananya di Oxford di bidang kebijakan publik.
Sebelum ditunjuk sebagai menteri pemuda dan olahraga oleh Perdana Menteri Mahathir, bujangan kelahiran 6 Desember 1992 itu aktif sebagai meimpin sayap pemuda Partai Bersatu, pimpinan Mahathir Mohammad. Dia juga terpilih sebagai anggota parlemen Malaysia mewakili Muar, Johor.
Bulan lalu, Saddiq datang ke Indonesia untuk melihat persiapan penyelenggaraan Asian Games di Jakarta dan Palembang, dia juga sempat bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memanggilnya dengan nama “Bro Saddiq”. Di bidang kepemudaan, Saddiq menginginkan pengurangan batas terendah usia pemilih di Malaysia dari saat ini 21 tahun menjadi 18 tahun.