Menikmati Gemerlap Pasar Malam di Ibu Kota

Muhamad Rizky, Jurnalis
Sabtu 17 November 2018 09:01 WIB
Suasana Pasar Malam di Banjir Kanal Timur (Foto: Rizki/Okezone)
Share :

Kisah Seorang Penjaga Komidi Ombak 

Kondisi cuaca itu tak hanya memengaruhi penghasilan Aji, Sugito (20) salah seorang mandor bianglala atau komidi ombak itu juga merasakan hal serupa. Meski setiap hari mendapat uang makan dari sang pemilik merasakan pahitnya bekerja di pasar malam.

Dalam seminggu dirinya bersama dengan beberapa karyawan lainnya harus menerima upah sebesar 25 persen dari penghasilan selama seminggu. 25 persen tersebut nantinya dibagi dengan seluruh karyawan yang bekerja.

Ia menceritakan, sebelum menjadi mandor atau operator bianglala pria asal Jawa Tengah itu pernah menjadi karyawan pasar malam keliling. Sugito rela terlantar karena sepi pengunjung. Namun bersama dengan temannya yang sudah dirasa sebagai keluarga hal itu dihadapi dengan keyakinan hal itu pasti berlalu.

"Dulu saya ikut kelilingan kaga dapet duit terlantar setiap musim hujan udah (sepi)," kenangnya.

Untuk itu, dirinya pun kerap prihatin setiap melihat rekannya yang ikut pasar malam keliling ditengah kondisi cuaca yang tidak menentu. Sebab Ia merasakan betul bagaimana hal itu sangat memengaruhi penghasilan. Namun dirinya sangat bersyukur sekarang berada di pasar malam yang mangkal dan dibuka setiap hari sehingga hal itu masih lebih baik dibanding mereka yang keliling.

Disisi lain katanya, pasar malam yang kerap berpindah lokasi lebih beresiko. Ia mengakui bahwa kemungkinan untuk mengontrol keamanan permainan agak kurang. Seperti mengencangkan baut dan lainnya sehingga hal itu bisa membahayakan pengunjung. Namun demikian, Ia juga tak memungkiri hal itu bisa terjadi oada pasar malam yang mangkal, untuk itu dirinya memastikan untuk menjaga kualitas bianglala agar tetap aman bagi pengunjung.

Setiap hari Sugito bersama empat orang rekannya rela tidur di dalam kotak berukuran 3x1 meter sementara yang lain tidur seadanya di dalam wahana. Setiap mau membuka permainan dirinya selalu memastikan agar setiap baut terpasang dengan baik. Bahkan setiap akhir pekan pengecekan sedikit ditambah untuk memastikan keamanan.

"Kalau diliat itu paling baut. Kalo kincir gini yang harus di cek baut kalo enggak dicek enggak dikasih solar bahaya patah dia. Seminggu sekali kita kasih solar setiap mau malam Minggu biar enggak karat kalo enggak dia kering nanti pasti bunyi, itu bahaya," ceritanya.

Salah seorang pengunjung Fadlu (25) tak khawatir untuk menaiki setiap wahana yang ada di pasar malam BKT. Fadli mengaku sering beersama sanak saudara untuk menikmati hiburan di pasar malam. Harganya yang terjangkau menjadi pilihannya untuk memanjakan adik-adiknya itu.

"Dibanding ke Dufan kan mahal kalau disini kan murah saya biasa sama adik saudara kesini," tuturnya.

Menurutnya, wahana di pasar malam tak kalah seru dibanding di Dufan, Ancol. Aneka makanan dan minuman yang dijual murah meriah, permainan yang beragam menjadi satu hal yang menarik dan tak bisa disamakan dengan Dufan. Meski merasa sedikit khawatir dengan beberapa kejadian yang sering terjadi di pasar malam, Ia tidak terlalu khawatir. Sebab hal itu bisa diantisipasi dengan melakukan pengawasan yang lebih baik.

"Khawatir ada tapi kita hati-hati, kalo ajak adek juga saya pantau betul-betul," terangnya.

Hal senada juga dikatakan, Lidya. Bersama sang suami dan anak semata wayangnya bermain disalah satu permainan yakni mobil-mobilan. Dengan merogoh kocek Rp15 ribu sang anak sudah dimanjakan dengan menaiki sebuah mobil yang bisa dikendarai langsung oleh putranya.

"Enak mas seru kan murah juga, jadi ya enggak berat," tukasnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya