Prancis Kembali Bergolak: Berikut yang Perlu Diketahui Tentang Gerakan Rompi Kuning

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis
Sabtu 08 Desember 2018 21:48 WIB
Gerakan rompi kuning di Prancis. (Foto: AFP)
Share :

UNTUK akhir pekan keempat, Prancis kembali dilanda protes anti-pemerintah yang ditandai bentrokan kekerasan dan gas air mata.

Ratusan orang ditangkap. Lebih dari 200 orang orang telah ditahan di Paris yang dijaga sekitar 8.000 petugas dan 12 kendaraan lapis baja.

Hampir 90.000 personel keamanan dikerahkan menjaga keamanan di seantero negeri.

Pemerintah menyatakan mereka akan memberlakukan 'toleransi nol' terhadap kekerasan.

Gerakan 'rompi kuning' itu awalnya menentang kenaikan pajak bahan bakar tetapi sejumlah menteri mengatakan gerakan itu telah dibajak oleh para pengunjuk rasa dengan ideologi kekerasan.

Pekan lalu, ratusan orang ditangkap dan puluhan terluka dalam bentrokan di Paris-yang beberapa di antaranya merupakan bentrokan jalanan terburuk di ibukota Prancis selama beberapa dekade.

Apa yang terjadi akhir pekan ini?

Sekitar 5.000 orang berkumpul di Champs-Elysées namun segera dihadang barikade polisi ketika mereka bergerak.

Terjadi sejumlah bentrokan, ditandai dengan gas air mata yang dilontarkan polisi ke arah pengunjuk rasa di pinggir jalan ketika ketegangan memuncak.

Gas air mata itu diyakini dari jenis phosgene, jauh lebih kuat dari zat yang digunakan sebelumnya.

Jurnalis Le Monde, Aline Leclerc, mencuit (dalam bahasa Prancis) bahwa jumlah pengunjuk rasa lebih sedikit dibanding sebelumnya, dan bahwa polisi menggeledah tas mereka dan menyita barang-barang seperti helm dan kacamata pelindung.

(Baca juga: Prancis Kerahkan 65 Ribu Polisi Antisipasi Demonstrasi soal BBM)

Dia mengatakan para demonstran kebanyakan laki-laki berusia antara 20 dan 40 tahun, sementara perempuan dan pria yang lebih tua tampaknya menahan diri untuk tidak terlibat dalam kemungkinan bentrokan kekerasan.

Wartawan BBC Hugh Schofield, di Champs-Elysées, mengatakan pengunjuk rasa mengaku masker mereka, yang digunakan sebagai pelindung terhadap gas air mata, juga disita oleh polisi.

Polisi mengatakan setidaknya lebih dari 200 orang telah ditahan di stasiun kereta api dan di jalan-jalan, dengan lebih dari 350 orang dicegat untuk diperiksa identitas.

Sekitar 65.000 petugas keamanan dikerahkan di seluruh negeri akhir pekan lalu, tetapi kini ditingkatkan menjadi 89.000, meskipun Menteri Dalam Negeri Christophe Castaner mengatakan jumlah yang ditahan sejauh ini lebih dari peristiwa sebelumnya.

"Kami akan mengupayakan bahwa Sabtu ini akan berlangsung dalam kondisi sebaik mungkin," katanya.

Pasukan keamanan ingin mencegah terulangnya peristiwa akhir pekan, ketika Arc de Triomphe yang monumental di Paris dirusak, polisi diserang dan mobil dijungkir-balikan dan dibakar.

Castaner menegaskan bahwa mereka menerapkan 'toleransi nol' terhadap kekerasan.

Dia mengatakan: "Menurut informasi yang kami miliki, sejumlah orang radikal dan pemberang akan mencoba menggalang diri. Sejumlah orang ultra-kekerasan ingin ambil bagian."

Kendaraan lapis baja untuk membongkar barikade belum terlihat lagi di Paris sejak kerusuhan meletus di kawasan miskin di pinggiran kota pada tahun 2005.

Castaner menambahkan: "Tiga minggu terakhir ini telah lahir suatu monster yang telah meloloskan diri dari penciptanya."

Muncul seruan di media sosial untuk menyerang polisi dan istana Élysée dalam apa yang mereka sebut drama "Babak IV" yang tampak mengerikan.

Seorang anggota parlemen, Benoît Potterie, dikirimi sebutir peluru melalui pos, disertai kata-kata: "Lain kali (peluru ini) akan berada di antara matamu."

Enam pertandingan sepak bola Ligue 1 Prancis ditunda. Menara Eiffel, Museum Louvre, Musée d'Orsay, dan tujuan wisata lainnya ditutup.

Walikota Anne Hidalgo menerbitkan seruan: "Jagalah Paris pada hari Sabtu ini karena Paris adalah milik semua orang Prancis."

Apa yang terjadi dengan gerakan rompi kuning?

Para pengunjuk rasa 'gilets jaunes '-disebut demikian karena mereka beraksi dengan mengenakan rompi kuning dengan visibilitas tinggi yang wajib ada di setiap kendaraan di Perancis.

Wartawan BBC Lucy Williamson di Paris mengatakan bahwa selama beberapa minggu terakhir, gerakan media sosial itu telah bermetamorfosis dari protes atas harga bahan bakar diesel ke berbagai kepentingan dan tuntutan dengan spektrum luas -tanpa kepemimpinan.'

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya