Tidak lama setelah pertemuan di Moskow, militer Rusia menerbangkan dua pesawat pembom Tu-160 "White Swan" yang mampu membawa senjata nuklir ke Caracas, untuk berlatih dengan kekuatan Venezuela.
Miriam Lanskoy, Direktur Senior Russia and Eurasia di National Endowment for Democracy, mengatakan kepada majalah Time bahwa kehadiran pembom Tu-160 "White Swan" di Caracas adalah untuk mengingatkan bahwa Rusia masih dapat menunjukkan kekuatan militer di Barat.
'Langkah terkoordinasi'
Tetapi bentrokan langsung Rusia dengan AS masih dapat dihindarkan karena para tetangga Venezuela dapat juga berperan.
Wartawan BBC, Vladimir Hernandez, melaporkan cepatnya dukungan kawasan terhadap Guiado mengisyaratkan usaha "terkoordinasi" untuk menyudutkan rezim.
"Ini adalah langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Luar biasa menyaksikan bagaimana hal ini dikoordinasikan. Tidak lama setelah AS muncul (dan mengakui Guiado), Anda menyaksikan semua negara-negara ini (mengikuti) segera dalam hitungan detik, menit," katanya.
Maduro berulang kali menuduh Kolombia, di samping AS, berada di belakang usaha merusak kestabilan pemerintahannya.
Dia juga menuduh Bogota terlibat dalam usaha pembunuhan gagal dengan menggunakan pesawat tidak berawak pada bulan Agustus tahun lalu.
Berbicara pada Forum Ekonomi Dunia di Swiss, Presiden Kolombia, Ivan Duque, mengatakan Maduro seharusnya "mengundurkan diri dan membiarkan rakyat Venezuela menjadi bebas".
'Tanpa campur tangan'
Saat ditanyakan apakah campur tangan militer di Venezuela mungkin dilakukan, Duque menjawab, "Kami tidak membicarakan campur tangan militer. Kami membicarakan konsensus diplomatik dan juga dukungan rakyat Venezuela."
Wakil presiden Brasil, Jenderal Hamilton Mourao, mantan atase militer untuk Venezuela mengatakan negaranya "tidak ikut serta dalam campur tangan (militer) apa pun".
Dia mengatakan meskipun demikian pemerintahnya akan memberikan "dukungan militer, di masa depan, jika diperlukan untuk membangun kembali negara" (setelah transisi).
Saat kampanye presiden 2018, Jenderal Mourao mengatakan Brasilia seharusnya mengirimkan pasukan "sebagai bagian dari misi perdamaian internasional untuk Venezuela".
(Rahman Asmardika)