"Tentu saja hal-hal tersebut mengkhawatirkan, jangan sampai hak itu mengganggu pemilu. Di mana pemilu perwujudan kedaulatan rakyat untuk menentukan pemimpin," imbuh Karyono.
Sementara Ketua Progres 98 Faizal Assegaf menyebut setelah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dibubarkan, radikalisme yang saat ini mencuat melalui akun-akun bodong dan marak bermunculan di media sosial.
"Fenomena setelah HTI dibubarkan, dulu kan tradisi mereka demo-demo kan, setelah mereka dibubarkan oleh negara, yang muncul-muncul sekarang ini mereka melakukan demo-demo lewat media sosial," ujar Faizal.
"Lewat menggunakan akun-akun bodong yang terus-menerus mengampanyekan radikalisme, teroris, permusuhan, dan anti sekali terhadap perbedaan," katanya.
(Hantoro)