Eksistensi Palang Pintu yang Kian Tergerus Zaman

Wijayakusuma, Jurnalis
Sabtu 16 Februari 2019 11:34 WIB
Jejaka Nusantara Jawara Bekasi yang Terus Melestarikan Palang Pintu (foto: Wijayakusuma/Okezone)
Share :

 

"Nah menurut cerita, jadi di situ tuan tanah ini menerima dia tapi dengan syarat, dia harus bisa menjatuhkan centeng-centeng yang ada di rumah tuan tanah itu. Makanya kalau seseorang mau mengawini anaknya tuan tanah, itu harus diadu dulu sama centeng dia. Kalau kalah berarti tidak jadi, kalau menang lawan centengnya, berarti dia bisa nyunting anaknya," kata Babeh Damin kepada Okezone di Bekasi, Jum'at (15/2/2019).

Pria berbadan tambun yang juga Ketua Umum Jejaka Nusantara itu menyebutkan, dari cerita itu lambat laun akhirnya menjadi sebuah tradisi atau kebiasaan yang dilakukan masyarakat Betawi secara turun temurun, bilamana ingin menikahkan anak perempuannya. Namun seiring waktu, ada beberapa perubahan yang terjadi dalam tradisi tersebut.

"Kita tahu kan bukan hanya diajak berantem, ya itu pun sebenarnya berkelahinya hanya bohong-bohongan aja. Pasti yang kalah itu yang punya rumah, karena kalau sampai yang punya rumah nggak kalah, berarti nggak bisa kawin. Bahkan dicampur dengan pantun kan gitu, antara yang mau nyunting dan yang mau disunting. Keluarganya jadi saling balas pantun," ujarnya.

Berdasarkan awal mula cerita, kata dia, palang pintu diyakini memiliki filosofi, bahwa segala sesuatu butuh perjuangan yang tentunya tidak mudah untuk dilalui.

"Jadi kita berjuang nggak semudah itu, pasti ada tantangannya kan. Itu kalau filosofi saya mengartikan palang pintu itu seperti itu. Jadi kita nggak gampang masuk rumah orang, tapi harus melalui tahapan-tahapan yang memang harus kita lalui. Jadi perjuangan namanya itu, palang pintu salah satunya," paparnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya