TANGERANG SELATAN - DPD Partai Perindo Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali menjadi penyelenggara Nonton bareng (Nobar) debat Calon Presiden (Capres), di Remaja Kuring, Serpong, Minggu 17 Februari 2019.
Selain diikuti perwakilan Partai politik pengusung Capres 01, Tim Kampanye Daerah (TKD), dan jaringan relawan, terdapat pula perwakilan dari generasi milenial bersatu di lokasi Nobar. Kehadiran mereka, menjadi pembeda dari Nobar tahap pertama bulan Januari lalu.
Baca juga: Soal Energi, Komitmen Jokowi pada Energi Dinilai Komprehensif
Ketua DPD Perindo Kota Tangsel, Julia Mihardja mengatakan, dia dan TKD bersepakat menggandeng kalangan milenial dalam Nobar debat. Hal demikian bertujuan, agar mereka bisa menyimak sambil berdiskusi langsung mengenai capaian-capaian pemerintahan Jokowi selama ini.
"Kita tahu, pemilih yang berasal dari kalangan milenial berjumlah sekira 40% dari total pemilih, atau sekira 80 juta pemilih. Itu sangat besar, sehingga kita juga berkewajiban meneguhkan pilihan mereka terhadap calon yang terbukti nyata memajukan Indonesia. Mereka jangan sampai salah pilih," ujarnya kepada Okezone.
Baca juga: Debat Kedua Pilpres: Unicorn hingga "Perang Tagar" Warganet
Menurut Julia, guna memenangkan perolehan suara dari kalangan milenial. Pihaknya telah mengarahkan agar setiap Calon anggota legislatif (Caleg) dari Partai Perindo, mengemas semua bentuk kegiatan dengan melibatkan kalangan milenial.
"Mereka harus diedukasi agar melek berpolitik, karena pilihan kita itu menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan. Semua Caleg sudah saya arahkan guna memberdayakan kalangan milenial di Dapilnya masing-masing," sambungnya.
Baca juga: TKN Duga Ledakan di Parkir Timur Senayan untuk Kacaukan Pilpres dan Debat
Nobar debat Capres kedua ini terlihat berbeda, lantaran dirangkai dengan penampilan fashion show dari gadis-gadis berwajah cantik dan imut. Mereka berlenggak-lenggok di hadapan sekira 700-an peserta yang memenuhi taman belakang resto remaja kuring.
"Kalangan milenial ini sebagai tulang punggung masa depan bangsa Indonesia. Kalau sampai salah pilih, salah memahami, bisa berbahaya," tukas Julia.
(Fakhri Rezy)