Penyelidikan tersebut mendengarkan kesaksian orang-orang yang dipaksa melakukan hubungan seks, kadang-kadang di depan sesama murid.
Laporan itu menyimpulkan bahwa ditemukan "banyak pelaku bahkan tidak menyembunyikan ketertarikan seksual mereka terhadap anak-anak".
"Keterbukaan yang gamblang terkait tingkah laku mereka tersebut memperlihatkan sebuah budaya yang menerima tingkah laku pelecehan."
Karena penerbitan tersebut, Ampleforth menyatakan "biara dan sekolah mengulangi permintaan maaf mendalam kepada semua korban dan orang yang selamat dari pelecehan".
Downside menyampaikan penyesalan yang sama: "Biara dan sekolah sangat menyadari terjadinya kegagalan dan kesalahan serius dalam melindungi orang-orang yang seharusnya kami lindungi."
Bagi sebuah organisasi dengan lebih dari 1,2 miliar penganut dan saat ini hadir di semua negara di dunia, pusat perhatian sekarang difokuskan pada Paus Fransiskus.
Ketika dia terpilih pada bulan Maret 2013, Paus sangat menyadari pengaruh skandal pelecehan pastor terhadap Gereja.
Dalam setahun, pada bulan Juli 2014, dia telah bertemu enam korban dari tiga negara - dua orang dari Irlandia, Inggris dan Jerman. Dalam misa pribadi di mana enam korban hadir di antara para jemaat, dia menyampaikan permintaan maaf secara eksplisit.
"Di depan Tuhan dan umatnya, saya menyatakan kesedihan atas dosa dan kejahatan serius pelecehan seksual yang dilakukan pastor kepada Anda," kata Paus Fransiskus dalam khotbah yang kemudian diterbitkan Vatikan.
"Dan saya dengan rendah hati memohon maaf. Saya meminta maaf Anda juga bagi dosa para pemimpin Gereja yang menghapuskan dan tidak merespons sepatutnya terhadap sejumlah laporan pelecehan yang disampaikan anggota keluarga, di samping korban pelecehan sendiri."
Tidak lama kemudian, Paus Fransiskus menambahkan delapan anggota baru yang dudul di komisi perlindungan anak-anak bentukan bentukan Vatikan, dari Afrika, Osenia, Asia, dan Amerika Selatan. Tetapi badan ini menghadapi masalah karena anggotanya mundur. Dua orang di komisi yang juga korban pelecehan, Marie Collins dan Peter Saunders, mengundurkan diri
Marie Collins, yang dilecehkan seorang pastor saat berumur 13 tahun, menulis sebuah surat yang menyatakan meskipun Paus berkeinginan mengatasi masalah pelecehan yang dilakukan pastor, birokrasi Vatikan tetap saja menolak usulan perubahan.
Setelah komisi mengeluarkan rekomendasi bahwa semua surat-menyurat dengan para korban dan orang yang selamat seharusnya direspons, dia menemukan bahwa tidak satupun yang menerima jawaban.
"Saya merasa tidak mungkin mendengarkan pernyataan terbuka tentang kekhawatiran mendalam Gereja terkait dengan perlakuan terhadap orang-orang yang kehidupannya dirusak karena pelecehan," tulisnya, " sementara menyaksikan langsung bahwa kelompok di Vatikan menolak bahkan untuk menjawab surat-surat mereka."
Dia menyimpulkan: "Ini sebuah refleksi bagaimana seluruh krisis pelecehan di Gereja ditangani: dengan kata-kata manis di depan umum dan tindakan yang bertentangan di balik pintu tertutup."
Paus Fransiskus memutuskan untuk membuka pintu dengan mengadakan KTT yang belum pernah dilakukan sebelumnya untuk mengatasi masalah. Tetapi dia sudah berusaha mengurangi harapan dengan memperingatkan media, saat terbang kembali ke Roma dari Uni Emirat Arab, bahwa konferensi tiga hari itu hanyalah suatu permulaan dari sebuah percakapan.
Pihak lain memandang dia seharusnya mengeluarkan keputusan yang harus dipatuhi Gereja dan menerapkan protokol universal guna menghadapi berbagai tantangan karena keberadaan Gereja bergantung kepada serangkaian sistem budaya dan peradilan.
Sulit untuk membayangkan tantangan yang lebih mendesak bagi pemimpin yang berumur 82 tahun ini. Kepemimpinannya dimulai dengan antusiasme meluas dari seorang pria yang memilih kesederhanaan, bukannya upacara dan kemegahan, kerendahan hati dan kasih sayang bukannya jebakan status.
Tetapi bagaimana akhir dari hal ini kemungkinan ditentukan tindakan yang dia ambil dan protokol yang dia terapkan, untuk menangani masalah pelecehan skala besar.
(Rachmat Fahzry)