"Beliau juga menyampaikan konsep yang lebih detil dan teknis, bukan tataran ucapan yang bersifat apologi atau ucapan yang terlalu mengawang tapi lebih pada teknis apa sih yang dibutuhkan rakyat," tambah dia.
Hal itu cukup beralasan, karena sebelumnya jagoannya sibuk dengan pekerjaanya sebagai sebagai seorang Presiden dan kepala pemerintahan. Jadi, kata Dedi, sangat wajar jika Jokowi menunggu momen yang tepat untuk menyampaikan pidato kebangsaannya ini.
"Karena Pak Jokowi itu kepala negara dan kepala pemerintahan. Maka presiden Indonesia lebih capek dibanding dengan Presiden di negara lain yang pemerintahannya dibagi dua, yaitu kepala negara terpisah dengan kepala pemerintahan. Makanya, presiden di Indonesia selain harus mengerti urusan protokoler kenegaraan, dia harus tahu harga bawang dan harga cabai," tuturnya.
(Angkasa Yudhistira)