Pidato Politik AHY Singgung Sebab-musabab Pemecah Belah Bangsa

Antara, Jurnalis
Jum'at 01 Maret 2019 21:07 WIB
Komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pidato politiknya menyoroti berbagai hal penyebab pemecah belah bangsa. Salah satunya, ambang batas partai politik (parpol) atau gabungan parpol mencalonkan calon presiden-calon wakil presiden sebesar 20 persen.

Hal itu menurut dia, karena ambang batas 20 persen dukungan parlemen atau 25 persen suara nasional untuk mengusung capres-cawapres membatasi pilihan masyarakat atas calon pemimpin nasionalnya.

"Itulah mengapa Partai Demokrat tampil ke depan untuk mengoreksi batasan presidential threshold yang berpotensi membelah bangsa karena terbatasnya pilihan calon pemimpin kita," kata AHY dalam pidato politiknya di Djakarta Theater, Jakarta seperti dikutip dari Antaranews.com, Jumat (1/3/2019) malam.

(Baca Juga: Keberpihakan PDIP terhadap Islam Bisa Dilihat Sejak Era Bung Karno Hingga Jokowi

Dia menegaskan, partai juga bertekad untuk serius mencegah terbelahnya persatuan dan kesatuan bangsa. Demokrat menurut dia, sebagai 'Partai Tengah' dengan landasan ideologi nasionalis-religius siap menjadi benteng tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

"Kondisi terbelahnya bangsa, tentu bukan tanpa sebab. Karenanya, kami juga menyoroti pertarungan dua capres yang sama pada tahun 2014 dan 2019," ujarnya.

 

Dalam kaitan itu, AHY mencermati perkembangan sosial politik yang sedang terjadi karena perhelatan demokrasi ini oleh kalangan-kalangan tertentu dijadikan sebagai ajang memaksakan keyakinan dan pilihan politiknya.

Menurut AHY, dampaknya muncul fanatisme berlebihan yang pada akhirnya justru kontra-produktif dengan tujuan memajukan bangsa dan negara itu sendiri. "Sayangnya, karena perbedaan pandangan dan pilihan politik, tak ayal, seringkali kita berdebat kusir, membela pilihannya masing-masing secara subyektif dan membabi-buta. Kita tidak lagi mau mendengar dan melihat secara jernih dan jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi," katanya.

(Baca Juga: PPP Apresiasi Ajakan Jokowi untuk Tak Lelah Perjuangkan Kepentingan Umat

Dia mengatakan, lebih parah lagi, karena perbedaan pandangan politik kita sering keluar dari akal sehat misalnya kawan-kawan kita atau justru kita sendiri keluar grup whatsapp karena jengkel, seolah-olah kawan-kawan kita tidak lagi sejalan.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya