SLEMAN – Perkembangan teknologi digital mendorong para pelaku usaha mengembangkan bisnisnya secara online. Kini banyak hadir starups di berbagai bidang usaha, salah satunya di bidang agrobisnis. Kementerian Pertanian mendorong para pelaku usaha bisa mengambil peran dan memanfaatkan pasar global.
"Pertemuan ini untuk meningkatkan produktivitas di Asia," jelas Sekjend Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro dalam pertemuan APO dengan tema “Workshop on accelerating Agribusiness Startups” di the Royal Ambarrukmo Hotel, Yogyakarta, Senin (11/3/2019).
Workshopk ini didukung oleh APO (Asian Productivity organization) yang berkantor pusat di Jakarta. Indonesia sendiri sudah beberapa kali menjadi tuan rumah dalam pertemuan seperti ini. Pertemuan ini dihadiri sekitar perwakilan dari 16 negara yang ada di Asia. Seperti Bangladesh, India, Malaysia, Jepang, Thailand, Nepal, Pakistan dan beberapa negara lain. Bahkan para apelaku bisnis juga ikut hadir.
Pertemuan ini lebih fokus pada bagaimana upaya percepatan pertumbuhan startup agrobisnis. Disinilah peluang pengembangan usaha akan semakin terbuka. Dalam pertemuan inilah ada dua 12 pelaku Indonesia yang ikut dihadirkan.
“Kita berharap Indonesia bisa mengambil pasar ini secara maksimal,” terangnya.
Melalui forum ini, diharapkan para pelaku juga bisa saling berinteraksi dan bertukar pengalaman. Tidak kalah penting bagaiman mmebangun sebuah networking. Sehingga mereka akan mampu tumbuh dan bisa memacu lahirnya starups yang baru.
“Kami sangat mendukung peningkatan produktivitas SDM,” jelasnya.
Selama ini produktivitas pertanian terus mengalami peningkatan setiap tahun. Begitu juga tahun ini juga tetap tumbuh, bahkan ekspor terus meningkat.
Ketua APO, M Zuhri Bahri mengatakan pertemuan ini sangat penting untuk mendorong lahirnya starups baru yang lebih kuat. Khususnya dibidang pertanian, bagaimana bidang pertanian mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
“Ini sangat penting, sebagai pintu masuk untuk percepata pembangunan,” jelas Zuhri.
Selama ini, bisnis startup masih dikuasai oleh e-commerce yang banyak dikuasai pemain lama seperti Lazada, Gojek, atau Tokopedia. Bisnis starup semakin ramai dengan masuknya konglomerasi dari luar negeri. Hal ini akan menjadi peluang usaha agrobisnis yang menjanjikan. Apalagi sesuai hasil survei Badan Pusat Statistik Indonesia masih sebagai negara agraris.
“Lebih dari 28,8 persen penduduk hidup di sektor pertanian, jauh di atas sektor lain,” jelasnya.
Indonesia juga dikenal memiliki berbagai produk pertanian yang sangat melimpah. Baik dari buah-buahan ataupun sayur-sayuran. Muncul bebrapa startup yang membuat aplikasi bisnis pertanian juga bisa menjadi rujukan dan informasi harga produk pertanian, cara pertanian yang tepat hingga solusi bercocok tanam.
(Risna Nur Rahayu)