Transformasi Digital Menu Wajib Mahasiswa

Koran SINDO, Jurnalis
Kamis 25 April 2019 11:15 WIB
Ilustrasi: Foto Koran Sindo
Share :

JAKARTA - Perkembangan ilmu dan teknologi yang semakin cepat mau tidak mau harus diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang handal pula. Jika tidak, bukan tidak mungkin akan tersingkir dari persaingan global.

Terutama di era revolusi industri 4.0 ini, di mana perkembangan teknologi berjalan dengan cepatnya. Kondisi ini pun memicu dan berdampak pada pendidikan di Indonesia.

Untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi itu semua, kampus pun mulai berlomba-lomba menyusun strategi. Mulai dari kurikulum berbasis teknologi digital hingga membuka jurusan-jurusan baru.

 Baca Juga: Kampus Didorong Beradaptasi dengan Teknologi Digital

Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Panut Mulyana mengatakan, tidak bisa dipungkiri bahwa di era revolusi industri 4.0 ini, kalangan akademisi harus menyiapkan semuanya dengan baik.

Akademisi, ujarnya, harus menyesuaikan diri dengan perkembangan era industri 4.0 ini. UGM pun, ungkapnya, juga telah menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan global yang makin ketat ini. Di antaranya dengan menyiapkan program pendidikan khusus, yaitu menjadikan kuliah transformasi digital (big data, internet optic, bahasa pemograman, dan coding) menjadi kuliah wajib yang harus diikuti seluruh mahasiswa di UGM.

“Era digital ini, empat hal itu, (big data, internet optic, bahasa pemograman, dan coding) menjadi hal penting. Sehingga mahasiswa harus menguasainya,” ungkapnya.

 Baca Juga: 80% Kesuksesan Diraih Melalui Pendidikan

Meski demikian, menurut Panut, UGM tidak membuat program studi yang spesifik. Namun lebih memperkaya program studi (prodi) dengan mata kuliah yang memberikan warna dan kebutuhan saat ini. Sebab, jika dengan membuat prodi spesifik, maka justru malah mempersempit ruang pembelajaran.

“Prodi baru yang spesifik punya kelemahan, yaitu bahwa ilmu yang didalami terlalu sempit, sehingga tidak baik untuk S1 yang harus tahu banyak. Meski begitu, hal sepesifik untuk era saat ini seperti big data, coding,internal optic, dan bahasa pemograman juga harus tahu secara umum,” tandasnya.

Karena itu, UGM menyesuaikan konteks pembelajaran lebih kepada evaluasi kurikulum. Apalagi, nama prodi bukan hanya mengikuti tren dunia semata, namun juga harus memiliki standar. Seperti di engineering, UGM harus melalui akreditasi internasional, di mana nama prodi tersebut bisa diakrediasi dan sudah ada daftarnya.

“Prodi yang lebih spesifik namun tidak mengikuti tren dunia, keterakuan di dunia internasional, maka akan sulit. Jadi, lebih baik nama prodi mengikuti tren dunia tapi kontennya tidak ketinggalan,” paparnya.

 Baca Juga: Mahasiswa Perlu Diajari Mata Kuliah Baru Literasi Berbasis Teknologi

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya