Pengamat Sebut Pemindahan Ibu Kota Negara Sudah Sangat Relevan

Muhamad Rizky, Jurnalis
Kamis 02 Mei 2019 23:24 WIB
Share :

JAKARTA - Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies, Jerry Massie menilai wacana pemindahan ibu kota negara yang digaungkan Presiden Joko Widodo relevan untuk dilakukan. Menurutnya kota pemerintahan layak dipisahkan dengan bisnis.

"Saya sangat sepakat dan setuju jika Indonesia capital dipindahkan, kendati anggarannya cukup gede yakni Rp 466 triliun. Namun, dipindahkannya ada berbagai pertimbangan dan alasan," kata Jerry dalam keterangan tertulisnya, Kamis (3/5/2019).

Jerry mengungkapkan, pemindahan ibukota ada keunggulan dan kekurangan. Dan hal itu terjadi di beberapa negara seperti di Malaysia yang berhasil memindahkan kota pemerintahannya.

"Begitupula di Amerika Serikat (AS) Washington DC capital and goverment city (ibukota dan kota pemerintahan). Contih lain di AS New York ibukotanya Albany dan kota bisnisnya Manhattan. Washington ibukota Olimpia kota bisnisnya Seattle," ungkapnya.

Jerry menjelaskan, bisa saja ibukota dipindahkan ke Pulau Kalimantan, Jawa atau Sumatera. Pasalnya kondisi Jakarta yang sudah macet, hal itu tentu sulit mengatur pemerintahan kalau macet. Terlebih Jakarta masuk urutan ke-12 kota paling macet di dunia.

Data yang ada lanjut Jerry, setiap hari ada 1500 kendaraan baru masuk Jakarta dan motor di Jakarta ada 8 juta dari 111 juta kendaraan di seluruh Indonesia. Sedangkan panjang jalan hanya 700 km. Bandingkan Tokyo Jepang panjang rel kereta api saja mencapai 23.670 Km.

Bahkan kualitas jalan di Jepang berada di urutan kelima pada 2016 dengan skor 6,1. Jepang mengalahkan negara-negara maju di Eropa seperti Prancis 6, Denmark 5,7, Jerman 5,6, maupun Spanyol 5,5.

"Kalau dibandingkan antara jalan Indonesia dan Jepang cukup jauh, total jalan di negeri Sakura ini mencapai 1,2 juta km, sementara total panjang jalan di Indonesia tak sampai setengahnya yakni 496 ribu km. Indonesia, negara dengan luas daratan mencapai 1.922.570 km², ternyata memiliki jalan yang lebih sedikit ketimbang Jepang yang luas daratannya hanya 374.744 km² atau hanya 85 persen dari luas Pulau Sumatera," ungkapnya.

Yang kedua tambah Jerry, flood atau banjir. Sulit apabila Jakarta selalu terkena banjir dan hal itu wajar terjadi karena Jakarta terdiri dari rawa, kali, kuala jadi tanahnya kurang baik.

Presiden Soekarno dalam tulisan Cindy Adams dalam bukunya sambungny, "Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat", pernah mau memindahkan ibukota ke Jogjakarta.

"Kita akan memindahkan ibu kota besok malam. Tidak ada seorang pun dari saudara boleh membawa harta benda. Aku juga tidak," kata Jerry menirukan menirukan Soekarno.

Kemudian disusun rencana pada tanggal 3 Januari 1946 jelang tengah malam disadur dari wikipidia, sebuah gerbong kereta yang ditarik dengan lokomotif uap C.2809 buatan Henschel, Jerman dan dimatikan lampunya berhenti di belakang rumah Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Menteng yang terletak di pinggir rel KA antara Stasiun Manggarai dan Gambir.

"Jumlah penduduk Indonesia saat ini 265.015 juta sedangkan di Jakarta pada 2017 menjadi 10,37 juta jiwa. Nah masalah kepadatan menjadi acuan. Apalagi masalah lain yakni noisy atau kebisingan. Kepadatan, Kebanjiran, Kebisingan, Kemacetan, Kerawanan menjadi pertimbangan ibukota dipindahkan. Jadi dalam hal ini masalah demografi dan topografi dan geografi perlu dilihat," tukasnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya