BEKASI - Musim kemarau rutin memberikan dampak kekeringan bagi sejumlah daerah di Tanah Air, terutama di daerah pegunungan. Potret bencana ini selalu menjadi sorotan karena berpengaruh luar biasa terhadap kelangsungan hidup masyarakat terdampak, juga lingkungan yang terdapat di sekitarnya.
Salah satu dampak kekeringan yang paling mengkhawatirkan adalah berkurangnya sumber air minum. Hal ini selalu menjadi ancaman tatkala bencana kekeringan melanda di suatu daerah. Persediaan air untuk mencuci, mandi dan kegiatan lainnya juga dipastikan akan semakin sulit didapat.
Tak hanya itu, dampak mengerikan kekeringan juga kerap terjadi pada lahan pertanian yang menjadi sumber ketahanan pangan masyarakat. Persediaan air yang mengering, lambat laun membuat seluruh tanaman padi mati dan berimbas pada gagalnya panen. Akibatnya, para petani merugi dan lahan dibiarkan terbengkalai tanpa bisa memproduksi apapun lagi.
Bencana Kekeringan Terparah
Kabupaten Bekasi, Jawa Barat misalnya. Daerah ini memiliki 3 dari 23 kecamatan yang kerap menjadi langganan kekeringan saat kemarau tiba, yakni Cibarusah, Serang Baru dan Cikarang Selatan. Ketiga kecamatan tersebut bahkan sempat mengalami bencana kekeringan terparah pada 2017 lalu.
"Kita di tahun 2017 sangat luar biasa keringnya, sudah akut dan menjadi catatan rapor merah penanggulangan bencana di Kabupaten Bekasi pada waktu itu. Dampaknya sangat luas. Saat itu kita dapat laporan sampai 32 hektare (lahan pertanian kering) yang ada di tiga wilayah, Desa Ridogalih, Ridomanah dan Sinarjati," kata Anggota DPRD Kabupaten Bekasi Komisi IV, Nyumarno kepada Okezone, Kamis (20/6/2019).
Ketiga desa yang terletak di Kecamatan Cibarusah tersebut memiliki sebanyak 2.659 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan, berdasarkan data BPBD Kabupaten Bekasi. Ribuan KK tersebut sehari-hari diketahui hanya mengandalkan suplai air bersih yang didistribusikan pihak PDAM Tirta Bhagasasi, yang bisa mencapai ribuan liter per hari.
"Dampak kekeringan sebetulnya tidak hanya ke masyarakat secara langsung kaitan dengan air minum, tetapi sangat luas. Lahan-lahan pertanian di wilayah Selatan yang notabene kalau ada kekeringan, lahan pangan kami dan cocok tanam tidak bisa, jadi gagal panen," ujarnya.
"Kita menggantungkan nasib ketahanan pangan salah satunya kan padi selain jagung, dan kami masih tersuplai dari wilayah Selatan yang lahannya juga masih ada. Meskipun kita dapat bantuan subsidi misalkan dari kabupaten tetangga seperti Karawang, tapi ketahanan pangan kami harusnya tercukupi dengan baik dan tidak ada kendala apabila kekeringan dapat diatasi," imbuh Nyumarno.