SURABAYA - Sekira 1.000 masyarakat Papua yang berada di Kota Surabaya, Jawa Timur dalam kondisi aman. Mereka menjalani rutinitas secara normal. Begitu juga dengan para mahasiswa Papua juga sudah belajar dengan nyaman.
Sehingga masyarakat Papua tidak perlu khawatir. Warga Papua diminta untuk tidak terprovokasi dan terpancing dengan berita bohong yang menyebar di media sosial selama ini.
"Kami masyarakat dan adik-adik mahasiswa Papua yang ada di Surabaya dalam hidup damai, aman dan tidak ada apa-apa," ujar Ketua Ikatan Keluarga Besar Papua Surabaya, Piter Frans Rumaseb, pada wartawan usai melakukan pertemuan di Mapolda Jatim, Senin (19/8/2019).
Baca Juga: Wiranto: Usut Tuntas Kasus Kerusuhan Papua Secara Adil!
Piter menjelaskan, untuk mahasiswa yang diamankan oleh anggota Polrestabes Surabaya kemarin sudah dikembalikan dengan baik ke asrama. Mengenai informasi yang menyebut masyarakat dan mahasiswa Papua di Surabaya dipulangkan, itu informasi tidak benar.
Sedangkan untuk insiden perusakan lambang negara berupa bendera merah putih, pihaknya serahkan pada aparat kepolisian untuk melakukan penegakan hukum. Sebab, itu merupakan kewenangan kepolisian untuk melakukan penyelidikan.
"Perlu diketahui kami masyarakat Papua dan mahasiswa Papua yang ada disini sekitar 1 000. Yang bermasalah terjadi di asrama kalasan 10 Surabaya. Itu awalnya 15 penghuni kemudian datang lagi siangnya, sehingga jumlah total adik-adik kami yang diamankan polisi 43 orang," tuturnya.
Baca Juga: Kerusuhan di Manokwari, Jokowi: Emosi Boleh, tapi Memaafkan Lebih Baik
Ia menambahkan, sampai saat ini pihaknya aman, tidak ada diskriminasi, tidak ada pengusiran dan rasis dari warga Surabaya. Mengenai adanya kata-kata yang menyinggung masyarakat papua, dirinya serahkan pada kepolisian untuk mengusut.
"Kami disini semua aman. Adik-adik kuliah juga aman, tidak usah khawatir yang berlebihan. Kita semua di sini anak-anak ibu pertiwi. Tidak ada pengusiran dan rasis pada kami disini," ujarnya.
(Arief Setyadi )