Heru menilai, penggantian mobil dinas kepresidenan sudah wajar karena usianya sudah melebihi 10 tahun. Sedangkan, pabrikan mobil tersebut juga telah sulit memperbaiki.
"Kami juga bertahap (pengadaannya), tentu kami mehami keuangan negara juga harus diprioritaskan untuk yang lain. Besok kan beli mungkin dua, tahun depan tambah dua," ungkapnya.
Ia menjelaskan, saat ini mobil kepresidenan sebanyak delapan unit untuk dibagi ke Presiden dan Wakil Presiden. Selain itu, pengadaan memang diperlukan karena kegiatan Jokowi yang padat.
"Misalnya Presiden seperti kemarin ke Bali, berarti dari suatu tempat ke Halim sudah satu mobil, satunya harus cadangan. Sudah dua di Jakarta, nah satunya lagi di Bali, seharusnya ada cadangan, tapi kan tidak ada," ucap Heru.
Menurut Heru, mobil dinas Jokowi juga sering mogok karena sistem elektrikanya kerap bermasalah. Ia mencontohkan terkadang sistem power windownya tidak bisa digunakan, audio yang menyala tiba-tiba. Alhasil, mobil dinas orang nomor satu itu sudah tidak nyaman lagi.