JAKARTA – Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ikhsan Abdullah menyayangkan cerita 'KKN di Desa Penari' lebih menyoroti hal musyrik, bukan menonjolkan keindahan alam desa di Indonesia.
Diketahui dalam cerita KKN di Desa Penari terdapat sebuah permakaman yang aneh. Sebuah permakaman yang dikelilingi pohon beringin itu terdapat batu nisan yang ditutupi kain hitam.
Baca juga: Menerka Lokasi Mistis Cerita KKN Desa Penari di Banyuwangi
Bahkan, ada sesajen di setiap batu dekat pohon beringinnya. Hal tersebut, jelas Ikhsan, bisa menggiring masyarakat ke perilaku musyrik.
"Jadi tentu saja ya kita tidak sependapat atau menyayangkan ada ekspose suatu tempat karena pengaruh mistis," ujar Ikhsan saat berbicara dengan Okezone, belum lama ini.
Baca juga: MUI: Jangan Percaya Cerita KKN di Desa Penari, Buat Hiburan Saja
Ia menuturkan, seharusnya cerita KKN di Desa Penari menonjolkan sebuah keindahan alam lokasi yang masih dirahasiakan ini. Hal tersebut agar nantinya bila terungkap akan memberikan dampak positif kepada desa itu dan mendongkrak pariwisata di sana.
"Mendongkrak juga pariwisata yang tadinya masih bagus belum terjamah karena adanya ini kita ekspose ternyata desa itu indah. Jadi, orang bisa datang ke sana," imbuhnya.