Revitalisasi mulai dikerjakan pada 2017 dengan dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR. Kini sebanyak 80% dari 116 bangunan gedung cagar budaya sudah direvitalisasi, melibatkan pihak swasta dan pemilik gedung untuk menggunakan kembali bangunannya menjadi beragam kegunaan.
Revitalisasi juga disertai dengan memanfaatkan gedung-gedung tua di kawasan Kota Lama sebagai kawasan ekonomi dan bisnis. Gedung tua cagar budaya disulap menjadi perkantoran, restoran, kafe, kedai kopi dan tempat wisata.
Bangunan lain juga telah disulap menjadi galeri seni dan tempat pameran produk UMKM. Dinas Tata Ruang juga meluncurkan Aplikasi 'Kota Lama Semarang' di Playstore dan Appstore untuk mendukung pelayanan informasi terkait bangunan cagar budaya. Melalui aplikasi tersebut, pengunjung dapat mendapatkan info 116 bangunan cagar budaya di Kota Lama dengan menggunakan QR Code.
"Sedari awal ketika ditanya apa kendala yang akan dihadapi dalam merevitalisasi Kota Lama, saya katakan bahwa hampir seluruh bangunan cagar budaya yang ada adalah milik swasta, termasuk BUMN," jelas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi.
"Maka ketika hari ini banyak pihak mengatakan Kota Lama berhasil berubah, maka jelas ini bukan kerja pemerintah saja, melainkan semua pihak yang memiliki kesamaan visi dengan kami," lanjut dia.
Pria yang akrab disapa Hendi itu menambahkan, revitalisasi Kota Lama tahap II dijadwalkan akan mulai dikerjakan pada September 2019. Beberapa hal yang digarap antara lain terkait infrastruktur, media literasi museum, serta melanjutkan pengerjaan street furniture di sejumlah titik. Melalui revitalisasi tahap akhir ini, Kota Lama Semarang diharaokan dapat menyandang predikat world heritage UNESCO 2020.
(Fiddy Anggriawan )