Pertempuran terjadi selama lima hari berturut-turut. Namun, pemuda Semarang kalah hingga harus melarikan diri. Banyak di antaranya para pejuang yang tertangkap dan dibunuh secara keji oleh tentara Jepang.
“Kemudian pemuda-pemuda Indonesia yang tertangkap dieksekusi di Sobokarti.Y ang lain lari ke arah Kota Lama, di situ ditampung oleh Kardinal Soegijapranata di Gedangan, untuk dilarikan keluar dari Semarang,” ungkapnya.
“Jadi peranannya sangat penting. Gereja Gedangan itu sejarahnya sangat-sangat penting daripada Gereja Blenduk,” imbuhnya.
Dia juga menyebut, di depan Gereja Gedangan sebelumnya merupakan bangunan rumah sakit milik VOC. Kini bekas bangunan tersebut digunakan untuk Susteran. “Depannya Gereja Gedangan itu ada bangunan lama, dulu Rumah Sakit VOC pertama,” lugas dia.
“Jalan itu (Gedangan) langsung masuk ke Tanjung Mas. Jadi dulu itu namanya Heeren Straat (kini Jl Letjen Soeprapto). Orang Belanda menyebutkan sistem yaitu Jalan Laut. Jadi diperkirakan mereka datang dari arah situ, karena kalau tidak, tidak mungkin VOC bikin rumah sakit di situ,” tegasnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Gereja Gedangan dirancang oleh arsitek Belanda bernama W.I. van Bakel. Gereja yang dibangun pada 1870 hingga 1875 ini untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan penduduk Katolik Semarang di era kolonial.
Kompleks gereja Gedangan terdiri atas gedung gereja, pastoran, dan sebuah biara. Hiasan penting yang masih ada adalah sembilan belas kaca patri jendela, ukiran-ukiran yang menampilkan empat belas salib dan sebuah altar.
(Fiddy Anggriawan )