"Di Cina itu ada dua (wilayah) yang kita catat, Provinsi Henan dan Hebei, karena memang jumlah populasinya banyak, jadi mereka mencari pengantin untuk menikah," jelas Ichsan menjawab pertanyaan wartawan usai kegiatan diskusi penanggulangan kasus pengantin pesananan di Menteng, Jakarta Pusat.
Lebih lanjut, Ichsan mengatakan bahwa pengantin pesananan dianggap sebagai bisnis yang menggiurkan bagi para pelakunya. Para pemesan di China dilaporkan membayar hingga Rp300-Rp400 juta untuk seorang pengantin dari Indonesia.
"Bisa dibayangkan bahwa mereka berusaha merekrut sebanyak mungkin (pengantin) tanpa memedulikan (pernikahan) akan berhasil atau tidak.
"Jika berhasil, ya syukur, tetapi jika tidak, kita yang kesulitan, karena mereka (para pelaku) kan lepas tangan," tambahnya.
(Rachmat Fahzry)