MUHAMMAD Husni Thamrin (MH Thamrin), salah satu tokoh pahlawan nasional yang berasal dari Betawi. MH Thamrin mungkin dikenal oleh banyak orang hanya sebuah nama jalan besar di pusat kota Jakarta. Namun, tak banyak orang tahu sosok MH Thamrin yang merupakan pahlawan nasional. Lantas, siapa sosok MH Thamrin?
MH Thamrin merupakan sosok pria kelahiran Batavia, 16 Februari 1894. Ia lahir dari seorang ayah bernama Tabri Thamrin yang merupakan keturunan Belanda dan Ibu seorang Betawi, Nurkhamah. Meskipun memiliki darah keturunan dari Belanda, tapi MH Thamrin adalah seorang yang sangat nasionalis.
Matseni -sapaan karib Thamrin ketika masih kecil- dikenal sebagai sosok yang banyak menorehkan sejarah untuk suku Betawi -suku asli Jakarta-. Thamrin seorang anak Betawi yang sukses dan beruntung dapat mengenyam bangku pendidikan di zaman penjajahan. Ia tercatat sebagai tokoh pergerakan nasional yang memulai debutnya dari bawah atau menghidupi basis-basis massa di kalangan lokal (Betawi).
Pada zaman penjajahan, Thamrin sangat dekat dengan rakyat jelata, meskipun ia berasal dari kalangan wedana atau Pembantu pimpinan wilayah daerah tingkat II yang kini disebut kabupaten. Matseni kerap bermain, tidur, bahkan mandi di sungai bersama anak-anak dari rakyat jelata.
Thamrin sudah mulai terlihat sebagai seorang pemimpin ketika beranjak remaja. Bahkan, Ia pernah diangkat sebagai Wakil Wali Kota Batavia (Betawi) ketika berusia sekira 35 tahun. Dimana pada tahun 1929 terjadi suatu insiden terkait pengisian lowongan jabatan untuk wakil wali kota Betawi.
Saat itu, lowongan jabatan wakil wali kota dikuasai oleh orang Belanda yang disebut tidak mempunyai pengalaman sama sekali. Padahal, banyak rakyat Indonesia yang justru lebih pantas mengisi jabatan sebagai wakil wali kota. Akhirnya, rakyat setempat melakukan mogok massal dan berhasil mengangkat MH Thamrin sebagai wakil wali kota.
Sebelum menjabat wakil wali kota, MH Thamrin sudah lebih dulu mengawali karir perjuangannya dengan menjadi anggota Gemeenteraad atau Dewan Kota (DPRD). Karena pergaulannya yang cukup luas di kalangan elitis, MH Thamrin dapat menjadi dewan kota dan banyak memperjuangkan nasib orang-orang Betawi.
Tak sampai disitu, karir Thamrin kembali mengudara setelah bergabung dengan Volksraad atau Dewan Rakyat pada 1927. Thamrin bekerja di dewan rakyat bersama dengan tokoh pergerakan nasional lainnya sepeeti, HOS Cokroaminoto dan Haji Agus Salim.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra menceritakan bahwa MH Thamrin banyak berkontribusi untuk tanah kelahirannya. Pengorbanan MH Thamrin yang sampai saat ini masih dirasakan oleh masyarakat lokal Ibu Kota yakni perjuangan untuk membuat perkumpulan Betawi dan memperbaiki kampung-kampung di Jakarta.
Bahkan, kata Yahya, Thamrin salah satu jawara lokal yang berani memperjuangkan kesejahteraan rakyat betawi dengan menghapus sistem kerja paksa pada zaman penjajahan.
"Thamrin berjuang secara kooperatif. Oleh sebab itu dia jadi anggota Volksraad. Perbaikan kampung dan pendidikan bagi pribumi, itu yang paling mencolok dari perjuangan Thamrin. Juga perjuangan dia menghapus poenale sactie (kerja paksa diperkebunan)," kata Yahya saat dihubungi Okezone.
Sementara itu, Ketua Badan Musyawarah (Bamus) Betawi, Abraham Lunggana (Haji Lulung) mengaku banyak terinspirasi oleh sosok MH Thamrin. Lulung mengamini bahwa MH Thamrin banyak memberikan kehidupan dan kejayaan untuk masyarakat Betawi.
"Ini kan sosok yang punya integritas, pengalamannya juga, kita lihat gimana MH Thamrin bisa jadi pahlawan nasional. Perjuangan dia kan dimulai dari pendidikan," kata Haji Lulung dihubungi secara terpisah.
Menurut Lulung, MH Thamrin salah satu pejuang dari tanah Betawi yang patut dicontoh. Anggota DPR dari Fraksi PAN tersebut mengenang MH Thamrin sebagai sosok pejuang Betawi yang banyak berkontribusi untuk tanah kelahirannya dengan nilai-nilai perjuangan dan nasionalis.
"Ia punya pendidikan yang baik, dan kemudian keturunannya juga tidak kita ragukan memang dia orang tuanya juga bukan asli orang Jakarta, tetapi orang tuanya dari Belanda," bebernya.
"Kemudian, kita lihat dari perspektif seorang akademisi yang memang memperjuangkan nilai-nilai perjuangan utamanya soal akademis, budaya, dan mengerti perjuangan sejarah para tokoh senior," kata Lulung menambahkan.
Sosok MH Thamrin sendiri saat ini sudah banyak dilupakan oleh orang. Meskipun MH Thamrin telah wafat, namun, namanya tetap abadi. MH Thamrin kini dijadikan sebuah museum, jalan, hingga universitas. MH Thamrin juga sempat menjadi simbol tokoh di mata uang Rp2.000.
Lulung meminta masyarakat khususnya orang-orang Betawi tidak melupakan sosok MH Thamrin yang sudah banyak berkorban untuk Indonesia. Ia berharap agar nilai-nilai perjuangan MH Thamrin dapat diserap dan bukan hanya dilestarikan.
"Harusnya nilai-nilai perjuangan ini yang mesti kita hormati. Bukan saja dilestarikan tapi dikembangkan. Kalau dia pahlawan sebagai contoh, ya harus diikuti. Bukan hanya dilestarikan," ungkapnya.
(Khafid Mardiyansyah)