Kisah Ki Genjlong, Jawara Bekasi Pengusir Penjajah yang Berakhir Tragis

Wijayakusuma, Jurnalis
Sabtu 02 November 2019 11:00 WIB
Boan, kerabat Ki Genjlong ceritakan kisah kakak iparnya (Foto: Okezone/Wijaya)
Share :

Ia mengaku masih terkenang masa-masa kengerian saat perang. Suara bom dan senjata menjadi makanan sehari-hari warga. Bahkan tak sedikit jawara maupun rakyat jelata yang mengalami luka-luka akibat terkena senjata musuh.

"Ya memang susah waktu itu. Ngerasain nyungsep dari gorong-gorong supaya hidup. Lah bayangin aja, baru Maghrib udah perang nih jalanan ini. Jawaranya juga pada ngikut, cuma masing-masing cari selamat aja. Nah yang dari Tambun ke sana itu dibom lagi. Saya aja sampe mikir bakal mati. Bapak saya pulang dari warung Setu bawa beras, udah kakinya pada berdarah," kenangnya.

Ki Genjlong sendiri, kata dia, kerap memukul mundur musuh dengan senjata golok dibarengi ilmu silat. Melihat kegigihan sang abang ipar, Boan muda pun terpikir untuk ikut berperang dengan senjata yang diciptakannya.

"Saya waktu itu juga punya senjata, senjatanya bukan senjata bener. Dari bambu terus saya tutupin daun. Suaranya kan kaya bom, nah itu dia (musuh) juga pada mati," akunya.

Sayangnya, keberanian Ki Genjlong melawan penjajah, tak sebanding lurus dengan akhlaknya. Ia dikabarkan tewas secara tragis lantaran terkena santet orang-orang yang dendam kepadanya.

"Jadi dia juga emang udah punya salah. Waktu itu ngambil surat-surat sawah orang-orang. Dia juga mati diteluh sama orang-orang Gabus," ungkap Boan.

Meski tewas dengan cara tidak hormat, namun keberanian Ki Genjlong cukup diapresiasi warga kala itu. Sejumlah anak-anak muda, bahkan ikut terinsipirasi oleh keahlian silat yang dimiliki jawara Betawi tersebut. Dari situlah pencak silat mulai digandrungi warga setempat dan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Hingga akhirnya bermunculan wadah-wadah yang melestarikan pencak silat sebagai kebudayaan asli masyarakat Betawi.

"Coba dimana kampung ada (pencak silat). Banyak mah di sini, di Pisangan. Jadi dulu permainan itu kalo perempuan gak boleh lihat itu, karena khusus laki yang main silat, cuma jangan pake golok. Beradunya di Pisangan. Jadi itu ada yang nyebut ujungan (bahasa sandi) yang ada neng nong neng plok (klenongan). Asal ada ujungan itu, dateng kita," paparnya.

Di masa tuanya, Boan masih memiliki harapan agar kesenian pencak silat bisa terus dilestarikan khususnya oleh kaum muda Bekasi. Ia juga berharap pemerintah lebih berperan dalam upaya pelestarian budaya Betawi yang dilahirkan oleh para Jawara Betawi tersebut.

"Udah lumayan emang tempat-tempat ngelatih silat. Tapi kalo bisa ya terus ada, jangan sampe berhenti. Kalo saya mah pengennya biar tambah maju aja silat di Bekasi ini," imbuhnya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya