Menurut Adies, dalam penyusunan Alat Kelengkapan Dewan di DPR RI, Airlangga juga menawarkan posisi-posisi tertentu kepada tiga nama plus satu yang diminta Bamsoet agar diperhatikan oleh Airlangga.
"Itu sudah dilakukan Pak Airlangga, bahkan salah satunya ditawari posisi yang strategis, tapi di tolak oleh yang bersangkutan. Jadi tidak benar jika Airlangga tidak memperhatikan dan menepati komitmen awal," ucap Adies.
Selain itu, semua posisi dan perubahan yang diminta oleh Bamsoet juga akan dibicarakan lagi seusai Munas Golkar. "Jadi usai Munas Golkar masih dibahas lagi dan akan dirangkul semua, karena semua adalah kader Golkar," kata Adies.
Tentang tenaga ahli Fraksi Partai Golkar yang mendukung Bamsoet disebut diganti semena-mena juga dibantahnya. Menurut Adies, masa tugas tenaga ahli di FPG sudah habis, sama dengan anggota DPR.
"Mereka habis masa tugasnya pada 30 September 2019. Setelah itu kami melakukan perekrutan kembali, dengan membuka pendaftaran dan seleksi. Jadi tidak benar bahwa semua tenaga ahli dipecat begitu saja," ujar Adies.
"Dalam pendaftaran TA baru ini kami melakukan rangkaian tes seleksi berdasarkan beberapa hal. Misalnya proffesionalisme, pengalaman, kemudian kompetensi, track record, juga dilakukan wawancara, bahkan psikotes juga dilakukan," imbuhnya.
Karena itu, dirinya berharap kader-kader Golkar bisa memahami kesepatan yang dibuat oleh Bamsoet dan Airlangga secara utuh, membuat suasana yang sejuk menjelang Munas dan tidak ada klaim sepihak lagi, yang akhirnya berujung kegaduhan.
(Angkasa Yudhistira)