Balada Guru Honorer di Cirebon, Tetap Ikhlas Mengajar Meski Hanya Miliki 2 Murid

Fathnur Rohman, Jurnalis
Sabtu 30 November 2019 10:06 WIB
Kelas satu di SDN Karangwuni hanya berjumlah dua murid (Foto: Okezone/Fathnur)
Share :

"Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia".

Begitulah penggalan dari naskah pidato yang dibacakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, pada upacara peringatan Hari Guru Nasional 2019 lalu.

Dalam pidato itu, Nadiem berkomitmen akan berusaha berjuang untuk 'kemerdekaan belajar' di Indonesia. Namun, berbicara 'kemerdekaan belajar', para siswa dari sejumlah daerah di pelosok negeri ini, nampaknya belum bisa merasakan kemewahan itu. Fasilitas yang ada di sekolah seperti halnya perpustakaan, hanya sekedar angan-angan dalam imajinasi mereka.

"Pak Nadiem, kami minta perpustakaan untuk SDN 3 Karangwuni," kata empat orang siswa secara serentak, ketika Okezone menghampiri mereka, Rabu (27/11/2019).

Pagi itu, sekira pukul 10.35 WIB, raut wajah para siswa nampak cukup lelah setelah mengikuti kegiatan pendidikan jasmani. Di antara mereka, ada salah seorang siswa yang sedang membuang air kecil di samping sudut sekolah. Memang, sepanjang mata memandang, tidak ada penampakan bangunan toilet yang diperuntukan untuk para siswa.

Sebelum mereka datang, suasana di SDN 3 Karangwuni, Kecamatan Sedong, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terlihat sangat sepi. Hanya ada dua orang siswa kelas I yang berada di dalam kelas. Sisanya hanya ada tiga orang guru yang ada di ruangannya. SDN 3 Karangwuni merupakan sekolah terpencil yang terletak di perbatasan antara Kabupaten Cirebon dengan Kabupaten Kuningan. Siswa di sekolah ini hanya berjumlah 26 orang saja.

Mendapat predikat sebagai sekolah terpencil, tentunya segala keterbatasan dalam kegitan belajar mengajar sering dialami oleh para siswa di SDN 3 Karangwuni. Apalagi, di sekolah ini hanya memiliki dua guru honorer dan satu guru berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan untuk jabatan Kepala Sekolah dirangkap oleh Kepala Sekolah lain dari SD di dekat SDN 3 Karangwuni.

Pengabdian Guru Honorer di SDN 3 Karangwuni

Sejak tahun 2007 silam, Hendrik Andriyana Lesmana resmi diangkat sebagai guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Seperti nasib kebanyakan guru honorer lainnya, pria yang akrab disapa Hendrik ini, mendapat bayaran yang cukup rendah untuk pengabdiannya mengajar di sekolah terpencil di Kabupaten Cirebon.

Selain menjadi guru honorer, ia juga merangkap sebagai operator sekolah. Hendrik mengaku, dengan menjalankan kedua tugasnya ini ia mendapat honor sekitar Rp600 ribu per bulan.

"Saya sebagai guru honorer dan merangkap sebagai operator sekolah. Saya dibayar satu bulannya Rp600 ribu," ujar Hendrik ketika berbincang dengan Okezone, di sela-sela waktu mengajarnya.

Hendrik mengatakan, uang sebesar Rp600 ribu tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Jika dihitung-hitung dengan penghasilannya ini, setiap harinya ia hanya bisa memegang uang sekitar Rp20 ribu. Itu pun belum termasuk keperluan transportasi seperti uang bensin dan sebagainya. Dalam menutupi kekurangannya tersebut, Hendrik bahkan harus mengerjakan pekerjaan sampingan lainnya.

Jarak dari rumah Hendrik menuju SDN 3 Karangwuni sekitar 8 kilometer. Saat berangkat, ia mesti melewati jalan dengan kondisinya yang tidak begitu baik, serta sering longsor pada musim hujan. Ia juga mengaku, pernah beberapa kali menaruh motornya dan berjalan kaki ke sekolah, ketika kondisi jalanan itu sedang berlumpur. Apabila ia tidak melewati jalur tersebut, maka ia akan menempuh jarak yang lebih jauh lagi yakni 16 kilometer.

Hendrik bercerita, salah satu alasan mengapa ia tetap ikhlas untuk mengajar di SDN 3 Karangwuni adalah, karena melihat semangat anak muridnya yang begitu tinggi untuk belajar, meski dalam segala keterbatasan. Ia pun bangga, walau sekolahnya berada di tempat terpencil, para siswa mampu bersprestasi dan bersaing dengan siswa dari sekolah lain.

"Saya udah menjiwai mengajar di sini. Kemarin di kegiatan 17 Agustus, kami menjadi juara satu sepak bola tingkat kabupaten," tuturnya.

Apabila ia boleh memilih, ia ingin tetap mengajar di SDN 3 Karangwuni. Namun, karena kebutuhan ekonomi, ia berencana akan mengiktui seleksi CPNS di Kabupaten Ciamis dalam waktu dekat ini. Hendrik merasa, ketika dirinya mengajar di SDN 3 Karangwuni, suasananya seperti berada di perbatasan antar negara.

Hendrik berharap, Pemerintah khususnya Kemendikbud harus memperhatikan kondisi yang dialami siswanya. Ia pun meminta, supaya guru honorer di sekolahnya diangkat sebagai PNS tanpa syarat. Menurutnya selain mereka, siapa lagi yang akan bersedia mengajar di sekolah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni.

"Harapan besar saya kedepannya mudah-mudahan Pemerintah bisa lebih memperhatikan lagi nasib guru honorer di SDN 3 Karangwuni. Dengan mengajar di daerah terpencil seperti SDN 3 Karangwuni dengan keadaan sekolahnya seperti itu fasilitas yang sangat minim, besar harapan saya untuk diangkat jadi PNS," imbuhnya.

Kurangnya Tenaga Pengajar dan Fasilitas Minim

Syahroni awalnya hanya berjualan di depan SDN 3 Karangwuni. Namun, kemudian ia diminta menjadi penjaga sekolah. Selang beberapa waktu, ia akhirnya diangkat sebagai tenaga pengajar untuk membantu para guru honorer lainnya.

Dari pengakuannya, ia sudah menjadi tenaga pengajar selama tiga tahun. Ia biasanya ikut membantu mengajar di pelajaran agama serta terkadang membantu pelajaran jasmani juga. Ia merasa tergerak, ketika melihat semangat belajar siswa di SDN 3 Karangwuni begitu tinggi. Ia ikhlas dalam menjalankan tugasnya. Ia hanya ingin siswa-siswa tersebut kelak menjadi orang sukses di kemudian hari.

Sebagai tenaga pengajar atau guru honorer tidak resmi, Syahroni diberi honor sekitar Rp150 ribu - Rp200 ribu setiap bulanya. Namun terkadang, pemberian honornya ini mengalami keterlambatan hingga tiga bulan lamanya.

"Sudah hampir tiga tahun. Saya ngajar pelajaran Agama biasanya. Awalnya tergerak untuk membantu karena di sini kekurangan tenaga pengajar. Dari pada kosong mending saya ikut membantu," ujarnya.

Selain minimnya tenaga pengajar, Syahroni juga menuturkan, SDN 3 Karangwuni tidak memiliki gedung perpustakaan. Awalnya pihak sekolah sempat mengajukan untuk dibangun gedung perpustakaan itu, tetapi karena jumlah siswanya hanya 26, pengajuan itu akhirnya ditolak.

"Belum dibangun dengan alasan jumlah murid sedikit. Di sini semuanya serba tertinggal. Kalau Pemerintah serius, kirimkan aja bukunya ke sini, walaupun enggak ada perpustakaannya," tambahnya.

Dawud, satu-satunya guru PNS di SDN 3 Karangwuni menjelaskan, di sekolahnya hanya terdapat tiga ruang kelas saja. Setiap kelasnya disatukan menjadi dua bagian di dalam ketiga ruangan itu. Hal ini menurutnya menjadi kesulitan tersendiri, mengingat para guru harus mengajar dua kelas dalam satu ruangan sekaligus.

"Susah. Kosentrasinya terpecah, karena harus mengajar dua kelas sekaligus," kata Dawud.

Dawud dan para guru honorer di SDN 3 Karangwuni berharap, Pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib dan kesejahteraan para guru honorer, terutama mereka yang mengajar di sekolah terpencil. Para guru honorer ini sudah berkontribusi banyak untuk memajukan kualitas sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia, meski dalam tugasnya mereka memiliki resiko yang begitu tinggi. Jadi jangan sampai pengabdian mereka menjadi sia-sia karena kesejahteraan mereka tidak tercukupi.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya