TANGERANG - Anak-anak mulai memasuki halaman sekolah. Seorang perempuan dengan sigap berdiri di depan pagar, menyambut satu persatu murid yang datang. Sesekali merayu anak yang merajuk tak ingin lepas dari pelukan ibunya. Itulah rutinitas Yeni setiap pagi. Dia harus sudah tiba di TK tempatnya mengajar pukul 7, dan menyambut murid-muridnya yang siap untuk menuntut ilmu.
Yenita (29) adalah salah satu dari sekian banyak guru TK di Tangerang. Tahun ini adalah tahun ke enam dirinya mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak. Berbagai kisah telah dialaminya selama mengajar bocah usia 4 sampai 6 tahun itu. Kepada Okezone, Yenita mengenang saat dirinya memutuskan menjadi guru TK. Ia lantas berkuliah di jurusan pendidikan guru TK. Namun orang-orang memandangnya remeh, sebab menjadi guru TK dipandang sebagai profesi yang paling mudah.
"Banyak yang menyangka jadi guru TK itu gampang, cuma nyanyi-nyanyi aja. Padahal prakteknya tidak seperti itu," ujarnya.
Dia menuturkan ada banyak hal yang tidak diketahui orang tentang guru TK. Salah satunya bagaimana cara guru TK mengajar. Pekerjaan guru bagi anak-anak usia pra sekolah berarti juga harus bisa membentuk kepribadian anak didik. Yenita menjelaskan, guru TK benar-benar harus mempertimbangkan perasaan anak-anak saat belajar karena emosi anak usia pra sekolah gampang berubah.
"Kita ini istilahnya merawat sejak mereka masih tunas, kalau salah merawatnya tunasnya gak jadi pohon. Itu yang banyak orang tidak tahu. TK bukan sekedar bermain-main, tapi dalam permainan itu kita sisipkan juga nilai moral dan juga pelajaran lain" jelas Yenita.
Tak hanya itu, kadang dirinya juga harus memutar otak bagaimana melaporkan perkembangan anak didiknya kepada orang tua. Terlebih pada orang tua yang tidak mau bekerja sama dalam mendidik anak-anak. Yenita juga sering kesulitan memberi pemahaman pada orang tua yang ingin anaknya menonjol hanya dibidang akademis.
"Tiap anak tumbuh kembangnya berbeda, ada yang cepat tanggap ada juga yang tidak. Kadang saya kesulitan membicarakan hal itu kepada orang tua. Apalagi kepada orang tua yang sulit bekerja sama, menganggap kalau sudah diajarkan di sekolah tidak perlu diajarkan lagi di rumah" tuturnya.
Sebagai guru TK, Yenita juga dihadapkan pada persoalan rumit lainnya. Dia dan guru TK lainnya harus pintar dalam memilih bahan ajar agar tidak dianggap melanggar aturan dari pemerintah. Hal tersebut menjadi dilema tersendiri bagi guru TK, sebab larangan untuk mengajarkan calistung pada anak dibawah usia 7 tahun diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.
Yenita dan guru TK lainnya paham bahwa hal tersebut memang tidak boleh dilakukan, bukan hanya soal larangan pemerintah tapi memang hal tersebut bisa menimbulkan dampak psikologis bagi anak. Namun, persoalan masuk SD membebani para pengajar TK. Banyak sekolah dasar yang mensyaratkan calon siswa harus sudah bisa membaca, menulis dan berhitung saat masuk SD. Bahkan, calon siswa juga akan dihadapkan pada tes calistung untuk lolos masuk sekolah tersebut.
"Anak-anak usia mereka itu memang seharusnya dibentuk motoriknya, sosialisasinya, dan juga pengendalian emosi. Tapi kita dituntut untuk mengajarkan calistung supaya lulus TK bisa masuk sekolah dasar idaman" jelasnya.
Menyiasati hal tersebut, Yenita dan guru lain di tempatnya mengajar akhirnya kompak untuk mengenalkan angka dan huruf lewat berbagai macam permainan. Walaupun yang diajarkan sangat dasar, namun setidaknya anak didiknya mengerti angka dan huruf saat lulus TK nanti.
"Kami akhirnya sering ikut workshop dari psikolog atau praktisi anak, ditambah ilmu yang didapat waktu kuliah akhirnya ketemu cara mengajarkan calistung yang menyenangkan dan tidak memaksa" jelasnya.
Namun meski begitu, masih tetap saja ada wali murid yang ingin anaknya benar-benar ahli dalam membaca dan berhitung sebelum masuk SD. kalau sudah begitu, biasanya Yenita akan meminta kepala sekolahnya untuk memberi pemahaman kepada wali murid tersebut.
"Tetap saja ada orang tua yang 'keukeuh' ingin anaknya pintar baca dan hitung sebelum masuk SD. Padahal kami rutin kasih pemahaman kalau di TK itu kita bermain, bermain, bermain, baru belajar. Kalau masih ada yang seperti itu, saya minta bantuan sama kepala sekolah" ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, Yenita juga tak melupakan saat bahagia selama menjadi guru TK. Yenita mengaku, mengajar anak-anak usia dini memberi semangat yang berbeda. Anak-anak yang selalu ceria dan masih sederhana dalam berpikir membuat Yenita merasa selalu senang. Kadang, dirinya juga merasa seperti dinasehati oleh anak didiknya itu.
"Mengajar anak-anak rasanya muda terus. Apalagi mereka itu ya pikirannya masih polos. Pernah satu hari saya lagi merasa tidak semangat, ada satu masalah saat itu. Tiba-tiba ada anak yang nyeletuk, celetukan khas anak-anak tapi kok ya kayak disadarin sama dia gitu" ujarnya.
Pengajar TK sama seperti profesi guru lainnya. Mereka juga mengajar dengan hati walau kadang profesinya diremehkan. Menjadi guru memang tidak boleh setengah-setengah, sebab tanpa guru tak akan ada orang-orang hebat yang bisa membanggakan bangsa dan negara.
(Khafid Mardiyansyah)