"Kami akhirnya sering ikut workshop dari psikolog atau praktisi anak, ditambah ilmu yang didapat waktu kuliah akhirnya ketemu cara mengajarkan calistung yang menyenangkan dan tidak memaksa" jelasnya.
Namun meski begitu, masih tetap saja ada wali murid yang ingin anaknya benar-benar ahli dalam membaca dan berhitung sebelum masuk SD. kalau sudah begitu, biasanya Yenita akan meminta kepala sekolahnya untuk memberi pemahaman kepada wali murid tersebut.
"Tetap saja ada orang tua yang 'keukeuh' ingin anaknya pintar baca dan hitung sebelum masuk SD. Padahal kami rutin kasih pemahaman kalau di TK itu kita bermain, bermain, bermain, baru belajar. Kalau masih ada yang seperti itu, saya minta bantuan sama kepala sekolah" ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, Yenita juga tak melupakan saat bahagia selama menjadi guru TK. Yenita mengaku, mengajar anak-anak usia dini memberi semangat yang berbeda. Anak-anak yang selalu ceria dan masih sederhana dalam berpikir membuat Yenita merasa selalu senang. Kadang, dirinya juga merasa seperti dinasehati oleh anak didiknya itu.
"Mengajar anak-anak rasanya muda terus. Apalagi mereka itu ya pikirannya masih polos. Pernah satu hari saya lagi merasa tidak semangat, ada satu masalah saat itu. Tiba-tiba ada anak yang nyeletuk, celetukan khas anak-anak tapi kok ya kayak disadarin sama dia gitu" ujarnya.
Pengajar TK sama seperti profesi guru lainnya. Mereka juga mengajar dengan hati walau kadang profesinya diremehkan. Menjadi guru memang tidak boleh setengah-setengah, sebab tanpa guru tak akan ada orang-orang hebat yang bisa membanggakan bangsa dan negara.
(Khafid Mardiyansyah)