"Gak ganggu sih, selama mereka ngamen dan tidak memaksa. Yang mengganggu itu justru yang memaksa diberi uang" jelasnya.
Senada dengan pengakuan Azizah, hal yang sama diungkapkan oleh Arief (25) yang mengaku tak segan memberi uang pada pengamen tuna netra. Sebab menurutnya, rata-rata dari mereka memiliki suara yang bagus. Mereka juga benar-benar bernyanyi dan menghibur.
"Kalau saya sering sih ngasih uang ke mereka, karena mereka itu beneran nyanyi. Banyak pengamen lain yang hanya mengandalkan suara musik dari speaker dan minta uangnya maksa" jelasnya.
Iwang hanyalah salah satu dari sekian banyak penyandang tuna netra yang memilih menjadi pengamen untuk mencari nafkah. Mereka berjuang untuk tetap bisa bertahan di tengah kerasnya kehidupan kota. Lewat mengamen inilah mereka bisa memberi makan keluarganya, bahkan menyekolahkan anak-anak. Keterbatasan lapangan pekerjaan juga menjadi salah satu alasan mengapa mereka memilih untuk bekerja di jalanan.
Iwang sendiri tak ingin selamanya menjadi pengamen. Suatu hari nanti dia juga ingin mendapat pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik.
"Saya juga gak mau begini terus, kalau ada kesempatan saya mau nyoba hal lain supaya hidup saya dan keluarga jadi lebih baik lagi" tutupnya.
(Khafid Mardiyansyah)