Menengok Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo Menyambut Tahun Baru

Subhan Sabu, Jurnalis
Sabtu 28 Desember 2019 00:05 WIB
Pesta Rakyat Tradisional Etnis Borgo di Manado (Foto: Okezone/Subhan)
Share :

MANADO - Pesta rakyat tradisional merupakan suatu tradisi yang dilaksanakan oleh Etnis Borgo di Manado. Etnis ini merupakan keturunan pendatang dari berbagai bangsa Eropa, diantaranya Portugis, Spanyol, Belanda, Perancis, Jerman, dan lainnya yang diperkirakan masuk Sulawesi Utara (Sulut) melalui pantai Manado, Kema dan Tanawangko pada tahun 1500 an kemudian kawin mawin dengan warga pribumi suku Minahasa.

Borgo berasal dari kata “Burgers” ( baca: Berhers) dalam bahasa Belanda yang artinya warga bebas atau orang yang di bebaskan. Etnis Borgo yang ada di Sulut tersebar dibeberapa daerah yang umumnya pesisir pantai, yaitu Manado, Kema, Tanawangko, Amurang, Belang, Likupang.

Di kota Manado, etnis ini tersebar di Pondol (ujung), Sindulang, Kampung Kananga/Mahakeret (Bakuku-Berteriak), kampung Kakas -Tokambene ( Gudang Padi), Komo dan Kampung kodo. Setiap memasuki tahun baru Etnis yang tersebar dibeberapa lokasi tersebut selalu melaksanakan pesta rakyat tradisional.

Perayaan sebagai ungkapan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan bersama sama dalam rasa persaudaraan memasuki tahun yang baru ini sudah dilaksanakan secara turun temurun selama ratusan tahun oleh warga Etnis Borgo dan juga oleh penduduk asli yang ada di sekitar pemukiman Borgo.

"Itu sudah menjadi tradisi tiap tahun, turun temurun," kata Johan Takapente (60) kepada okezone

Pesta Rakyat Tradisional yang dilaksanakan setiap pergantian tahun itu diawali dengan Malam Taong Tua, Figura dan ditutup dengan Kunci Taong. Malam taong tua merupakan tradisi yang berasal dari bangsa Portugis untuk mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih dalam memperingati pergantian tahun dan mempererat tali Silaturahmi antar warga.

Tradisi yang lebih dikenal dengan nama Mekiwuka ini biasanya dia adakan setiap tanggal 31 Desember. Setelah mengadakan ibadah ucapan syukur di Gereja masing-masing, maka tepat pukul 24:00 wita seluruh warga masyarakat saling berjabat tangan untuk mengungkapkan rasa syukur karena telah melewati tahun yang lama dan memasuki tahun yang baru serta saling memaafkan antara warga masyarakat serta dengan Pemerintah.

Setelah saling berjabat tangan antara warga Masyarakat, mereka berkumpul di depan rumah pemerintah setempat atau yang dituakan, sambil bernyanyi dan diiringi oleh alat musik tradisional etnis Borgo berupa Gitar, Jug atau Ukulele, Tambor, Biola, serta alat musik Iainnya.

"Begitu tiba pukul 24.00 wita, silaturahmi, jabat tangan, masuk keluar rumah di kampung kakas kemudian kumpul semuanya, berdoa untuk tahun yang baru, kemudian kunjungi pemerintah setempat, kepala lingkungan, kepala kelurahan, kemudian tua-tua kampung, meminta ijin, minta ijin itu juga pakai lagu," jelas Johan.

Tokoh Masyarakat yang mewakili warga memberikan ucapan syukur dan rasa terima kasih kepada Pemerintah setempat atau yang dituakan karena telah memimpin selama satu tahun yang lalu serta mohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan, juga mohon petunjuk untuk memasuki tahun yang baru. Dan Pemerintah selanjutnya memberikan Wejangan dan nasehat kepada warga dan dilanjutkan dengan saling berjabat tangan antara warga dengan pemerintah dan keluarganya.

"Setelah itu secara bersama sama berkunjung sambil bernyanyi dengan diiringi musik, mulai dari kampung kakas sampai ke Mahakeret, tidak pilih-pilih rumah, semuanya kami masuki, bahkan sampai pagi hari," kata Johan yang juga pemain ukulele di tradisi itu.

Dahulu tradisi Mekiwuka ini dilaksanakan oleh setiap etnis borgo yang ada di kampung-kampung, seperti Mahakeret, Pondol, Kampung Tondano, Kampung Tombariri, Sindulang, namun sekarang tinggal Kampung Kakas, Kelurahan Wenang Selatan ,Kecamatan Wenang, Manado, Sulawesi Utara yang terus melaksanakannya setiap tahun.

Bahkan tradisi itu terus dijaga dan diwariskan kepada anak cucu. Kelestariannya masih terus di jaga, dari generasi tua sampai generasi muda yang ada di kampung kakas mengetahui tradisi tersebut. Sayangnya tradisi ini seakan terlupakan dan luput dari perhatian pemerintah, yang lebih dikenal justru tradisi Figura dan Kunci Taong.

"Padahal itu malam taong tua, malam kebersamaan, semua ikut bergabung, tidak mengenal suku, agama maupun golongan, kerukunan antar umat beragama di manado justru diawali dari sini," tambah Ronald Markus, pemuda kampung kakas.

Di Manado, hanya kampung kakas yang masih mempertahankan tradisi itu, turun temurun, di Kampung Sindulang juga ada, namun menurut Onal hanya di kampung kakas yang lebih menjaga kelestariannya, dan itu merupakan tradisi asli Manado.

"Dahulu pemerintah kota sudah pernah mengadopsi itu, bahkan dulu kami pernah jalan sampai ke rumah dinas walikota namun sekarang sepertinya tidak lagi, hanya figura yang dilestarikan padahal Mekiwuka juga penting, awal dari kegiatan menyambut tahun baru," jelas Onal

Pesta rakyat selanjutnya yakni Figura. ”figuur” dalam bahasa Belanda yang artinya rupa muka. Seperti Mekiwuka yang diiringi musik sambil bernyanyi, mengunjungi rumah pemerintah setempat dan seluruh rumah warga, tapi perbedaanya acara ini dilaksanakan pada siang atau sore hari di akhir bulan Januari.

Warga masyarakat yang mengikuti acara tersebut harus berdandan sedemikian rupa sehingga merubah karakter dan pribadi mereka sehari hari, contohnya Laki-Iaki berdandan sebagai Perempuan, yang lemah gemulai berubah menjadi gagah perkasa, begitupun sebaliknya. Dan berbagai karakter lainnya yang bertolak belakang dengan kehidupan mereka sehari-harinya. Untuk menambah semarak acara, maka ada penilaian tersendiri untuk setiap peserta.

Tradisi selanjutnya adalah Kunci Taong yang merupakan puncak acara dari serangkaian acara yang dilaksanakan sejak dari Malam Taong Tua, dan merupakan simbol suka cita dan syukur warga masyarakat karena telah memasuki tahun yang baru dengan rasa riang gembira saling berdansa dan berpesta.

Tradisi ini dilaksanakan pada malam hari sesudah acara Figura dan tidak berkeliling, melainkan di suatu tempat pertemuan dan dihadiri oleh seluruh warga masyarakat dengan pakaian pesta. Juga mengundang warga Etnis Borgo Iainnya yang ada di Sindulang, Pondol, Mahakeret, Komo, Kuhun, kampung Kodo, dan warga pribumi sekitar yang tujuannya untuk menjalin tali silahturahmi dan kekerabatan antara warga.

Acara ini dibuka dengan dansa poliness yang dipimpin oleh seorang pemimpin dansa. Setelah poliness dilanjutkan dengan dansa dansi Iainnya, yaitu Katrili, Waltz, Cha-cha, Jive, Scholtjes, Polka, Bugi-Bugi yang merupakan warisan leluhur Etnis Borgo yang tetap dilestarikan.

Seiring dengan mengikuti perkembangan zaman maka saat ini ditambah dengan irama Disco, Dangdut, Break-dance dan lainnya. Untuk memeriahkan pesta ini diadakan juga perlombaan dansa dengan berbagai jenis irama dan kategori tertentu serta pemilihan peserta terbaik.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya