Dirinya pun hanya pakai jas hujan bila seragamnya basah. Terkadang, seragamnya ia jemur seragamnya itu di pos agar paginya bisa dikenakan lagi.
“Kalau masih hujan ya mau nggak mau buka (seragam). Diperes dulu terus dijemurjemur seadanya. Diangin-anginin di pos. kita pakai jas ujan sementara. Sukur-sukur pagi sudah kering bisa dipakai buat jalan ke absenan,” tuturnya.
Karena harus selalu siaga, terkadang dia baru bisa pulang setelah keadaan genangan air surut. Sesuai dengan slogan UPK Badan Air Dinas Lingkunngan Hidup DKI “Pantang Pulang Sebelum Bersih,” Rafli dan rekan-rekannya baru dapat pulang apabila lokasi genangan sudah kondusif.
“Kadang baru bisa pulang setelah semuanya selesai dan kondusif sesuai slogan kita ‘Pantang Pulang Sebelum Bersih’,” pungkasnya.
Tidak hanya suka dan duka saja yang Rafli lalui, bahkan banyak kejadian yang membuatnya mawas diri dan bekerja lebih ekstra dari biasanya.
“Pemukiman di bantaran Ciliwung sering ada tawuran setiap malam, saya takut kena sasaran. Suka bawa senjata tajam dan petasan kan soalnya,” terang Rafli saat masih tinggal di bantaran Ciliwung.
Ia menceritakan kalau antar warga kampong yang sering tawuran, sedangkan tawuran pelajar sudah tidak dia temukan. “Hampir setiap malam ada jadwalnya, 4 kampung ganti-gantian setiap malam. Semalam saja sudah tawuran lagi. Sebelumnya agak reda pas abis ada yang kebacok,“ ujar Rafli.