RATUSAN warga negara asing dievakuasi dari Kota Wuhan di Provinsi Hubei, China, yang menjadi sumber wabah virus korona. Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di kota itu pun menyatakan khawatir dan meminta pemerintah membantu mereka keluar dari Wuhan.
Mengutip dari BBC News Indonesia, Jumat (31/1/2020), terdapat 243 WNI yang tersebar di 15 titik karantina di China, sekira 100 di antaranya berada di Wuhan.
Australia merencanakan untuk mengkarantina warga mereka yang dipulangkan ke Pulau Christmas, sekira 2.000 kilometer dari daratan Australia. Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa juga melakukan repatriasi warga mereka.
Maskapai Inggris, British Airways, menghentikan semua penerbangan ke dan dari China. Kementerian Luar Negeri Inggris memperingatkan warganya untuk menghindari perjalanan yang tidak perlu ke China.
Penerbangan lain, termasuk Lion Air, salah satu maskapai terbesar di Asia, menghentikan penerbangan. Begitu juga dengan penerbangan Amerika, United Airlines dan Cathay Pacific.
Presiden China Xi Jinping menyebut korona sebagai "virus setan", namun mengatakan pihaknya bakal meredam wabah itu. Komisi Kesehatan China memperkirakan puncak wabah akan terjadi 10 hari lagi.
WNI di Wuhan Minta Segera Dievakuasi
WNI yang berada di Wuhan mendesak pemerintah segera mengevakuasi mereka karena jumlah korban meninggal akibat virus korona jenis baru, 2019-nCoV, terus meningkat.
Pemerintah membuka opsi dilakukan evakuasi. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sudah menyiapkan tiga pesawat angkut untuk membawa pulang mereka.
Korban meninggal mencapai 106 orang di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, dan total 132 di seluruh daratan China. Lebih dari 5.974 orang terinfeksi.
Jumlah yang terjangkit mencapai lebih dari 9.000 orang, melebihi kasus SARS pada 2003 yang ketika itu mencapai 8.000 orang, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO).
Total kasus yang terus meningkat menyebabkan Khoirul, WNI yang sedang menempuh studi di Huazhong University of Science and Technology, Wuhan, merasa takut terinfeksi virus korona.
"Evakuasi (kami) segera mungkin. Kami tidak mau mati di sini, karena mengerikan sekali. Tiap hari naik terus yang meninggal, 106 orang itu bukan angka kecil," kata Khoirul saat dihubungi BBC News Indonesia, Rabu 29 Januari 2020.
Khoirul yang merupakan ketua ranting perkumpulan mahasiswa di Kampus Huazhong mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada mahasiswa di kampusnya yang berasal dari Pakistan menjadi terduga terjangkit virus korona.
Bahkan, ujarnya, ia dan terduga tinggal di gedung apartemen yang sama. "Iya, mahasiswa pertama (Pakistan) di apartemen kami. Bisa dibayangkan, lift apartemen kita gunakan bersama-sama," katanya.